Donald Trump, yang menghadapi kekurangan amunisi utama dan meningkatnya penolakan di dalam negeri terhadap perluasan operasi militer, tengah menyiapkan langkah-langkah ekonomi baru untuk memaksa Teheran menyerah. Kepada Fox News pada Jumat, Trump mengatakan AS berencana memberikan pukulan keras terhadap perekonomian Iran dan tidak peduli apakah konflik berakhir sebelum pemilu paruh waktu AS pada November. Pemilu tersebut akan sangat dipengaruhi persepsi pemilih terhadap kondisi perekonomian.
Belum jelas langkah tambahan apa yang dapat diterapkan AS tanpa menggunakan apa yang disebut sanksi sekunder. China membeli lebih dari 90% minyak Iran, tetapi menjatuhkan sanksi terhadap Beijing kemungkinan akan memicu tindakan balasan yang berisiko berdampak negatif terhadap perekonomian AS dan semakin meningkatkan ketidakpastian harga energi global.
“Kecuali presiden memutuskan untuk memprioritaskan penanganan ancaman Iran di atas semua isu lainnya, terutama China, kecil kemungkinan langkah apa pun yang mereka ambil akan secara material mengubah perhitungan Iran,” kata analis Bloomberg Economics Chris Kennedy.
Perekonomian Iran telah mengalami pukulan besar. Sebagian besar kapasitas industrinya rusak dan ekspor minyak mentahnya anjlok akibat blokade laut AS. Gelombang sanksi sebelumnya juga gagal memaksa Iran mengubah program nuklirnya ataupun melepaskan kendali atas Selat Hormuz.
Selat Hormuz merupakan “aset geopolitik yang dianugerahkan Tuhan kepada bangsa Iran dan pengaruh ini tidak akan pernah kembali ke kondisi sebelumnya,” kata Kepala Angkatan Darat Iran Amir Hatami, menurut kantor berita semi-resmi Fars pada Minggu (16/8). “Kami akan melindungi kapasitas ini dengan segenap kekuatan kami.”
Kendali atas selat yang menjadi jalur sekitar seperlima minyak dan gas dunia sebelum perang tersebut menjadi inti dari perundingan yang terhenti antara Washington dan Teheran. Harga minyak mentah Brent melonjak hampir 6% pekan lalu setelah sejumlah kapal diserang di dalam dan sekitar selat, semakin mengikis harapan tercapainya penyelesaian cepat atas kebuntuan yang telah mengganggu arus minyak dan komoditas penting lainnya ke pasar global.
Iran dan Oman tampaknya tengah menyelesaikan “peta pelayaran” sebagai bagian dari kesepakatan yang lebih luas mengenai tata kelola lalu lintas di selat tersebut. Namun, AS tidak terlibat dalam pembahasan itu dan kemungkinan tidak akan menyetujui ketentuan yang tidak memulihkan kebebasan pelayaran di Selat Hormuz. Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengatakan kesepakatan dengan Oman tidak berarti selat tersebut akan dibuka kembali dan terpisah dari pembahasan dengan AS yang berlangsung melalui mediator Qatar dan Pakistan.
Meski demikian, negara-negara produsen minyak di Timur Tengah terus mengirimkan minyak mentah dalam jumlah besar keluar dari Teluk Persia. Langkah tersebut membantu menahan kenaikan harga global dan meredakan kekhawatiran terhadap lonjakan inflasi yang dipicu energi.
Gencatan senjata antara AS dan Iran yang disepakati pada Juni akan secara resmi berakhir pada Senin. Trump telah memperingatkan pada Juli bahwa kesepakatan tersebut secara efektif “berakhir”, ketika AS dan Iran saling melancarkan serangan. Iran juga sejak lama menilai serangan Israel terhadap Lebanon sebagai pelanggaran terhadap kesepakatan tersebut.
Serangan terus terjadi di dalam dan sekitar Selat Hormuz. UK Maritime Trade Operations mengatakan pada Sabtu bahwa pihaknya menerima laporan mengenai sebuah proyektil yang menghantam lambung kapal pengangkut curah. Dua kapal milik Abu Dhabi National Oil Co diserang ketika melintasi Hormuz pada Kamis, sementara kapal lainnya terkena serangan pada Jumat, menurut laporan kantor berita pemerintah Uni Emirat Arab, WAM.
Serangkaian serangan tersebut terjadi setelah sekitar 65 insiden yang melibatkan kapal terkonfirmasi di selat itu antara awal Maret hingga 11 Agustus. Insiden-insiden tersebut menewaskan sedikitnya 17 orang, menurut Organisasi Maritim Internasional.
Sementara itu, gejolak yang berkaitan dengan konflik AS-Iran terus meluas. Mengutip seorang pejabat militer, kantor berita pemerintah Iran IRNA melaporkan pada Sabtu bahwa Doha selama berbulan-bulan melarang delegasi Iran menyelidiki nasib tiga pilot yang jatuh di Qatar selama perang.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Qatar membantah tudingan bahwa negaranya menahan pilot-pilot Iran melalui unggahan di X pada Sabtu malam. Ia mengatakan Doha “terkejut dengan pernyataan-pernyataan menyesatkan ini pada saat ini, di tengah upaya dan inisiatif diplomatik yang sedang berlangsung untuk meredakan ketegangan di kawasan.”
Israel juga terus terlibat dalam bentrokan dengan anggota Hamas di Gaza selain menghadapi Hizbullah, sementara kelompok Houthi menyerang kapal-kapal di Laut Merah. Ketiga kelompok tersebut didukung Iran.
Utusan perdamaian AS Jared Kushner membahas pelaksanaan kesepakatan perdamaian di Jalur Gaza dengan mediator dari Mesir, Turki, dan Qatar, menjelang rencana kunjungannya ke Israel pekan ini untuk melanjutkan pembicaraan.
Kushner, menantu Trump, bertemu dengan Presiden Mesir Abdel-Fattah El-Sisi di New Alamein, di pesisir Laut Mediterania, untuk membahas kesepakatan gencatan senjata, menurut kepresidenan Mesir.
Kushner dan Nickolay Mladenov, utusan utama Board of Peace, juga membahas dengan pejabat dari tiga negara mediator tersebut cara mempercepat fase kedua gencatan senjata di Gaza, menurut Al-Qahera News. Tahap awal gencatan senjata dalam rencana Trump tercapai pada Oktober tahun lalu.
Kushner mengonfirmasi bahwa kesepakatan dalam peta jalan tersebut bersifat final dan tidak akan dibuka kembali untuk pembahasan lebih lanjut, menurut seorang anggota biro politik Hamas yang berbicara kepada Bloomberg dengan syarat anonim karena Hamas belum mengumumkan informasi tersebut sebelum para mediator melakukannya. Menurut anggota tersebut, Israel harus secara terbuka menyetujui kesepakatan itu tanpa melakukan pelanggaran.
Pertempuran antara Hizbullah dan Israel mengancam menggagalkan gencatan senjata yang dimediasi AS antara pemerintah Israel dan Lebanon. Kesepakatan tersebut mengatur pelucutan senjata Hizbullah, sekaligus membuka jalan bagi penarikan pasukan IDF dari wilayah yang mereka duduki dan pengerahan tentara Lebanon untuk menjaga keamanan.
(bbn)



























