Nilai yang dimenangkan pada tenor 12 bulan melonjak menjadi Rp18,25 triliun dari sebelumnya hanya Rp4 triliun. Sebaliknya, alokasi tenor 6 bulan justru turun 50% menjadi Rp250 miliar, sedangkan tenor 9 bulan tetap Rp500 miliar.
Imbal Hasil Turun
Imbal hasil atau yield rata-rata tertimbang yang dimenangkan dalam lelang kali ini juga menyusut. Yield tenor 6 bulan turun 12,8 basis poin (bps) jadi 7,05%, tenor 9 bulan turun 19,3 bps jadi 7,2%. Sedangkan tenr 12 bulan turun paling dalam 22,4 bps jadi 7,36%.
Perubahan yield ini membuat kurva yield SRBI makin landai, setelah mencapai puncaknya pada Juni. Selisih yield tenor 12 bulan menyempit, dari 40,69 bps jadi 31,1 bps.
Penurunan ini juga menunjukkan bahwa BI mampu mengurangi premi yield seiring meredanya volatilitas nilai tukar rupiah, sejalan dengan ekspektasi hawkish The Fed yang mereda.
Meski turun, yield ini tetap menarik di mata investor. Membaiknya selera investor pada instrumen SRBI akhirnya memberikan ruang bagi BI untuk menyerap lebih banyak penawaran tanpa harus memberikan yield yang lebih mahal.
Sebelumnya, BI memang menggunakan daya tarik yield sebagai bagian dari strategi dalam menarik kembali aliran modal untuk menopang rupiah.
Walaupun yield SRBI terpangkas, sejatinya yield ini masih lebih mahal daripada yield yang ditawarkan Surat Berharga Negara (SBN) atau obligasi pemerintah.
Untuk diketahui, yield obligasi tenor yang sama yakni 1 tahun terpangkas 2,9 bps ke posisi 6,86%. Praktis, secara imbal hasil, instrumen SRBI masih menawarkan yield yang lebih menarik daripada SBN.
Penopang Rupiah
Tak heran jika minat investor yang melonjak, lalu diikuti penyerapan yang tinggi oleh BI, cukup menopang laju penguatan rupiah pada perdagangan Jumat (14/8/2028).
Mulanya, rupiah membuka sesi perdagangan dengan melemah 0,11% di posisi Rp17.890/US$. Namun, tak lama berselang, rupiah berbalik arah, hingga pada saat Presiden Prabowo Subianto menyampaikan pidato kenegaraan rupiah melanjutkan tren penguatan 0,21% ke posisi Rp17.833/US$. Hingga akhir sesi perdagangan, rupiah berhasil ditutup menguat 0,25% ke Rp17.825/US$.
Selain operasi moneter, penguatan rupiah juga tertopang oleh sentimen pencalonan Destry Damayanti sebagai penerus Perry Warjiyo sebagai Gubernur BI. Pergantian pucuk kepemimpinan bank sentral ini memberi sinyal keberlanjutan strategi moneter, dan meredakan kekhawatiran pasar tentang arah kebijakan moneter.
Meski demikian, rupiah masih rentan terhadap gejolak fiskal dan isu peringkat kredit, serta ketidakpastian geopolitik yang menyebabkan kenaikan harga minyak mentah.
Karena itu juga, BI kemungkinan masih akan tetap berhati-hati dengan memanfaatkan suku bunga, intervensi lewat SRBI dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) untuk meredam volatilitas rupiah.
(dsp)
































