Pemerintahan Trump kembali bertaruh, tekanan ekonomi Iran yang semakin mencekik akan berhasil mencapai tujuan tersebut. Trump mengatakan, ia mengambil pendekatan yang lebih tenang (low–key) terhadap Iran, dengan membiarkan tekanan ekonomi terus meningkat alih-alih menempuh tindakan militer.
Jika Trump memilih untuk melakukan eskalasi, Bloomberg Intelligence menilai, terdapat tiga opsi utama: meningkatkan intensitas serangan udara dan rudal, melakukan upaya yang lebih terkoordinasi untuk menegakkan blokade serta mengawal kapal melewati selat guna meningkatkan arus pasokan energi, dan/atau melakukan operasi untuk membuka kembali Selat Hormuz secara paksa.
“Opsi tersebut akan membutuhkan pengerahan pasukan darat ke wilayah Iran. Masing-masing opsi, khususnya opsi terakhir, akan menimbulkan ancaman baru terhadap pasukan AS, serta risiko terjebak dalam kampanye militer yang lebih besar dan berlangsung lebih lama,” papar laporan riset Bloomberg Intelligence yang terdiri analis Jennifer Welch, Chris Kennedy, Dina Esfandiary, dan Becca Wasser.
Terbaru, Robert Malley, President Emeritus dan Program Director untuk Timur Tengah dan Afrika Utara di International Crisis Group mengatakan, situasi terkait Selat Hormuz dapat berlangsung tanpa batas waktu yang jelas, menyitir Bloomberg News.
Harga minyak mentah masih berada di jalur kenaikan mingguan, imbas pembicaraan antara AS dan Iran tampaknya mengalami kebuntuan dan kedua pihak semakin mempertegas posisi masing–masing. Washington pun terus memberlakukan blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran.
Pakistan, yang berperan sebagai mediator, mengatakan proses perdamaian yang lebih luas telah terhenti, biarpun batas waktu untuk nota kesepahaman (memorandum of understanding/MoU) antara AS dan Iran masih dapat diperpanjang.
(fad)






























