Logo Bloomberg Technoz

Masalah itu berkaitan dengan likuiditas saham GOTO yang relatif rendah di pasar lantaran saham itu diperdagangkan pada harga perdagangan mininum Rp50 di Bursa Efek Indonesia sejak penutupan perdagangan 13 Mei 2026.

“Perlakuan ini dilakukan karena adanya potensi masalah dalam replikasi indeks,” kata MSCI.

Mengutip Bloomberg News, potensi dikeluarkannya GOTO dari indeks MSCI dapat membebani pasar saham Indonesia secara lebih luas, yang telah anjlok sekitar 27% sepanjang tahun ini dalam aksi jual yang dipicu oleh peringatan MSCI pada Januari mengenai kemungkinan penurunan status pasar Indonesia.

Pergerakan saham GOTO di bursa. (Bloomberg)

Bahkan jika GOTO benar-benar dikeluarkan dari MSCI, reksa dana atau dana pasif yang berinvestasi di GOTO—yang pada akhir Juli menyumbang sekitar 4% dari MSCI Indonesia Index—mungkin akan kesulitan keluar dari posisi mereka karena jumlah penjual kemungkinan jauh lebih besar daripada pembeli.

“GOTO adalah kisah kurang beruntung tentang sebuah perusahaan yang pernah menjadi juara nasional tetapi kemudian jatuh dari kejayaannya,” kata Angus Mackintosh, analis di Aletheia Capital.

“Pemangkasan dari MSCI pada tahap ini tidak akan banyak berpengaruh, mengingat sahamnya secara efektif sudah tersuspensi. Tidak ada lagi ruang untuk turun lebih rendah.”

Dikeluarkannya GOTO dari indeks-indeks MSCI akan menjadi pukulan terbaru bagi perusahaan tersebut setelah bertahun-tahun mengalami kerugian besar akibat persaingan dengan pesaing yang memiliki modal kuat, seperti Grab Holdings Ltd.

Serangkaian restrukturisasi dan pergantian kepemimpinan telah membantu perusahaan membukukan laba kuartalan untuk kedua kalinya secara berturut-turut, bahkan ketika tekanan terhadap laba semakin meningkat akibat kenaikan harga minyak yang dipicu oleh perang di Timur Tengah.

Likuiditas saham GOTO di bursa. (Bloomberg)

GOTO, yang didukung oleh Alibaba Group Holding Ltd., pernah menjadi salah satu perusahaan paling bernilai di Indonesia, dengan kapitalisasi pasar yang sempat menembus US$32 miliar tak lama setelah pencatatan sahamnya di Indonesia pada April 2022.

Namun, optimisme terhadap prospek pertumbuhan perusahaan tersebut tidak bertahan lama. Kekhawatiran mengenai jalur GOTO menuju profitabilitas dan disiplin keuangannya meredam antusiasme investor.

Pembicaraan selama bertahun-tahun mengenai kemungkinan pengambilalihan GOTO oleh Grab, perusahaan yang berbasis di Singapura, sejauh ini hanya menunjukkan sedikit tanda kemajuan menuju kesepakatan yang konkret.

Sebagai bagian dari MSCI May Review, MSCI membekukan perubahan terhadap posisi GOTO di dalam indeks-indeksnya, dengan alasan adanya potensi masalah index replicability akibat rendahnya likuiditas saham tersebut.

Berbagai upaya untuk meningkatkan aktivitas perdagangan dan mencegah penghapusan GoTo dari indeks—termasuk dorongan MSCI agar bursa Indonesia menghapus batas bawah harga saham (price floor)—sejauh ini belum membuahkan hasil, menurut orang-orang yang mengetahui masalah tersebut. Mereka meminta untuk tidak disebutkan namanya karena alasan kerahasiaan.

GOTO menolak memberikan komentar mengenai review MSCI yang akan datang, sementara MSCI dan bursa saham Indonesia tidak segera menanggapi permintaan komentar.

Hans Patuwo, yang menjadi CEO GOTO pada akhir tahun lalu setelah adanya dorongan dari sejumlah pemegang saham besar untuk menyingkirkan pendahulunya, telah berjanji untuk membalikkan kondisi perusahaan.

Perusahaan tersebut juga mempertimbangkan reverse stock split sebagai salah satu cara untuk meningkatkan harga saham, setelah mengumumkan rencana buyback saham hingga Rp3,5 triliun (US$196 juta) serta rencana untuk membatalkan saham treasuri.

“Kami tidak percaya bahwa ini mencerminkan nilai fundamental perusahaan,” kata Patuwo kepada Bloomberg Television dalam wawancara pada 30 Juli, merujuk pada harga saham GoTo.

“Kami ingin memastikan kondisi makroekonomi sudah tepat sehingga ketika kami menggunakan dana tersebut, dampak yang dihasilkan sesuai dengan yang kami harapkan.”

(naw)

No more pages