Selain membahas komitmen pendanaan, pertemuan tersebut juga menjadi forum untuk mengevaluasi dan menetapkan arah kebijakan IDA ke depan.
Sejak siklus IDA18, proses replenishment dipimpin oleh dua ketua bersama (co-chair), yakni seorang tokoh independen yang memiliki pengalaman luas di bidang bank pembangunan multilateral dan seorang pejabat senior Bank Dunia yang ditunjuk langsung oleh Presiden Bank Dunia.
Bank Dunia menilai Sri Mulyani sebagai salah satu tokoh paling berpengalaman di dunia dalam bidang pembiayaan pembangunan internasional. Saat ini, dia juga tercatat sebagai Blavatnik World Leaders Fellow 2025–2026 di University of Oxford.
Sebelumnya, Sri Mulyani pernah menjabat sebagai Menteri Keuangan perempuan pertama Indonesia. Dia juga pernah menduduki posisi Managing Director sekaligus Chief Operating Officer Bank Dunia, sehingga memiliki pengalaman panjang dalam perumusan kebijakan pembangunan dan pembiayaan multilateral.
Selain kiprahnya di sektor keuangan global, Sri Mulyani juga pernah masuk dalam daftar 100 Perempuan Paling Berpengaruh di Dunia versi Forbes.
Penunjukan ini semakin memperkuat peran Indonesia dalam tata kelola pembiayaan pembangunan internasional sekaligus menunjukkan pengakuan dunia terhadap pengalaman Sri Mulyani di bidang ekonomi dan keuangan global.
Sekadar catatan, sejak 1960, IDA tercatat telah menyediakan lebih dari US$632 miliar untuk investasi pada 115 negara. Lembaga ini telah menyediakan pendanaan dalam rangka penciptaan lapangan kerja guna pengentasan kemiskinan, penyediaan akses kepada air bersih, sekolah, jalan, nutrisi, listrik dan masih banyak lagi.
Beberapa negara yang dulunya merupakan anggota IDA Bank Dunia kini tidak lagi menjadi peminjam seperti China, India, Korea Selatan dan Vietnam. Beberapa negara kembali ke IDA menjadi donor setelah sebelumnya merupakan peminjam. Negara-negara yang bisa mendapatkan akses kepada sumber daya IDA harus berada dalam situasi kemiskinan relatif seperti memiliki pendapatan per kapita di bawah ambang batas operasional IDA yakni US$1.325 pada Tahun Anggaran 2026.
Negara yang bisa menjadi peminjam juga harus tidak kelayakan dalam menerima pinjaman dari unit Bank Dunia lain, yaitu Bank Rekonstruksi dan Pembangunan Internasional atau International Bank for Reconstruction and Development (IBRD). Sepanjang 2025, terdapat 10 negara yang mendapatkan pinjaman terbesar dari IDA. Terbesar yakni Nigeria US$3,14 juta dan Bangladesh US$3,04 juta.
(mfd/ell)






























