Strategi DeepSeek telah memicu perdebatan global dalam beberapa hari terakhir mengenai biaya tool AI dengan performa canggih. Harga yang ditawarkan DeepSeek begitu jauh di luar kisaran harga umum untuk model AI sehingga memunculkan gagasan tentang “death zone” DeepSeek, di mana model yang lebih mahal atau kurang mumpuni akan tersingkir.
Hal ini juga memunculkan pertanyaan mengenai rencana penawaran umum perdana (IPO) OpenAI dan Anthropic PBC karena risiko yang ditimbulkan perusahaan tersebut terhadap laba dan model bisnis mereka.
The recent 3 model releases set up new frontier to open source models!
— Tiezhen WANG (@Xianbao_QIAN) July 31, 2026
The gap is getting closed very quickly and it only happened within a month or two.
How would this figure look like by the end of this year?
Impressive and keep up with your great work! @Kimi_Moonshot… pic.twitter.com/uCVmqba4Wn
Keputusan DeepSeek menaikkan harga bisa menjadi titik balik di pasar AI Chihna, di mana para pemain utama lainnya telah mengikuti strategi perusahaan dalam menawarkan layanan berbiaya rendah dan basis open-source.
Para startup dan investor mereka telah mencari cara untuk mengalihkan era layanan AI yang sangat murah ke arah model bisnis yang lebih layak secara komersial.
DeepSeek sedang dalam proses penggalangan dana besar-besaran dan telah memulai persiapan untuk penawaran umum perdana (IPO) secepatnya tahun ini, dilaporkan Bloomberg.
Pendiri Liang Wenfeng untuk pertama kalinya harus menyeimbangkan ekspektasi investor, ekspansi pasar yang pesat, dan kebutuhan modal yang besar untuk membangun infrastruktur komputasi yang mahal.
Perusahaan berencana membangun pusat data raksasa di Mongolia Dalam, sebagai bagian dari rencana untuk mengamankan daya komputasi AI sebesar 1 gigawatt (1 GW) yang mungkin mencakup penyewaan kapasitas tambahan dari perusahaan lain, dilaporkan Bloomberg News pekan sebelumnya.
CEO Nvidia, Jensen Huang, sebelumnya memperkirakan bahwa pusat data 1GW yang dilengkapi dengan akselerator AI paling mutakhir akan membutuhkan US$50 miliar, meskipun biaya di China umumnya lebih rendah daripada di AS.
Pelanggan memiliki banyak cara untuk mengakses V4 Flash, termasuk langsung dari DeepSeek maupun melalui penyedia layanan lainnya yang menghosting model tersebut.
Kenaikan harga bakal berdampak pada pengembang dan perusahaan yang membayar DeepSeek secara langsung untuk menjalankan modelnya, dan mungkin memberi ruang bagi penyedia pesaing untuk menaikkan harga mereka sendiri.
Berkaca pada bobot model V4 Flash tersedia secara terbuka di bawah lisensi yang permisif, perusahaan lain dapat menjalankannya di server mereka sendiri dan mengenakan biaya kepada pelanggan untuk akses tersebut, sehingga memberikan alternatif bagi pengguna jika DeepSeek menaikkan harganya terlalu tinggi.
Menurut Robert Lea, analis industri dari Bloomberg Intelligence, tool AI yang disediakan tetap menghadirkan daya pikat bagi konsumen China hingga paruh kedua 2026, dimana DeepSeek dan ByteDance tetap mendominasi sektor chatbot AI di negara tersebut pada bulan Juni, “bahkan setelah peluncuran model-model terkenal dari Zhipu dan Moonshot AI.”
Kepemimpinan dua pengembangan AI di China masih akan memberi tekanan lebih lanjut pada perusahaan-perusahaan berskala lebih kecil, termasuk Baidu.
(bbn)






























