Logo Bloomberg Technoz

Salah satu SMV yang dikendalikan Kementerian Keuangan adalah PT Sarana Multi Infrastruktur atau PT SMI. Entitas khusus otoritas fiskal itu bergerak di bidang pembiayaan pembangunan dan infrastruktur.

“Jadi tidak langsung menjadi tanggung jawab APBN, jadi walaupun itu diolah pemerintah tidak akan membebani APBN,” kata dia.

Di sisi lain, dia memastikan, lengan investasi Kementerian Keuangan itu hanya mengambil bagian saham milik konsorsium BUMN yang tergabung ke dalam PT Pilar Sinergi BUMN Indonesia (PSBI).

“China masih mau melanjutkan proyek ini dan mungkin kalau disuruh akan perpanjang ke arah Jawa Timur,” kata dia.

Saat awal pendiriannya, 38% saham PSBI dikuasai PT Wijaya Karya Tbk (WIKA). Sementara itu, PT Kereta Api Indonesia (KAI) dan PTPN masing-masing memegang 25% dan JSMR menghimpit 12%.

Setelah adanya cost overrun US$1,2 miliar, komposisi pemegang saham PSBI dikocok ulang dengan menempatkan KAI sebagai pemimpin konsorium yang memegang 58,53% saham.

WIKA kemudian memegang 33,33% saham, disusul PT Jasa Marga Tbk (JSMR) dan PTPN masing-masing 7,08% dan 1,03%.

PSBI kemudian membentuk konsorsium dengan Beijing Yawan (BY) lewat usaha patungan PT Kereta Cepat Indonesia China (KCIC). PSBI memegang 60% saham dan sisanya dipegang oleh perusahaan China BY.

Proyek ini belakangan menelan investasi US$7,27 miliar yang dibiayai dari pinjaman CDB US$4,55 miliar dan sisanya dipenuhi dari ekuitas pemegang saham US$2,72 miliar.

Konstruksi kereta cepat itu molor dari tiga tahun menjadi delapan tahun, sejak 2016 sampai dengan 2023. Konsekuensinya, seluruh perencanaan awal meleset yang mengakibatkan pembengkakan biaya.

Beban Keuangan

Belakangan KAI diketahui menanggung bagian rugi investasi konsorsium pengendali Whoosh masing-masing Rp2,22 triliun dan Rp2,92 triliun pada 2024 dan 2025.

Saldo investasi KAI yang sempat mencapai Rp7,72 triliun setelah setoran tambahan Rp2,7 triliun pada 2024 lalu belakangan sisa Rp3,24 triliun di akhir 2025.

Nilai investasi KAI yang menguap sekitar Rp4,48 triliun itu mencerminkan rugi yang mesti ditanggung perusahaan setelah menguasai 58,53% saham PSBI, kendaraan investasi Danantara yang menyalurkan pinjaman ke operator Whoosh, PT Kereta Cepat Indonesia China (KCIC).

Manajemen KAI turut membentuk cadangan penurunan nilai investasi atau impairment sekitar Rp1,55 triliun.

Portofolio investasi KAI di perusahaan asosiasi dan ventura bersama. (Dok. Laporan Keuangan KAI 2025).

Adapun, PSBI mencatat rugi Rp4,98 triliun sepanjang 2025, naik 18,89% dibanding posisi rugi tahun sebelumnya sebesar Rp4,19 triliun.

Besaran rugi itu berasal dari beban bunga utang jumbo dari China Development Bank (CDB) dan selisih kurs yang diteruskan KAI untuk menutup cost overrun proyek kereta cepat.

KAI mengikat utang dengan CDB lewat fasilitas A berbentuk dolar AS sebesar US$325,62 juta dan fasilitas B berbentuk renminbi (RMB) setara dengan US$217,08 juta.

Suku bunga untuk fasilitas dengan pinjaman dolar AS sebesar 3,2% per tahun dan pinjaman dalam bentuk renminbi sebesar 3,1% per tahun.

Sampai akhir 2025, posisi ekuitas PSBI tinggal Rp5,1 triliun atau merosot 64,2% dari posisi ekuitas Rp14,26 triliun pada 2023. Sementara itu, rasio liabilitas terhadap aset PSBI mencapai 79,8% pada akhir 2025.

Rasio itu mengindikasikan sebagian besar aset PSBI dibiayai utang dengan bantalan ekuitas yang makin tipis.

Sebagian besar pembiayaan terhadap aset itu tercermin dari posisi pencatatan piutang KAI mencapai Rp10,41 triliun ke PSBI sampai periode akhir 2025.

Total piutang itu mengambil porsi sekitar 10% dari total aset KAI. Adapun, porsi piutang tidak lancar mengambil bagian sekitar Rp9,16 triliun.

(naw)

No more pages