Logo Bloomberg Technoz

Pada 3 Agustus 2026, Bulan dan Saturnus akan tampak menghiasi bagian langit yang sama sehingga menjadi objek menarik bagi para penggemar fotografi astronomi maupun pengamat langit malam.

Meski terlihat saling berdekatan, kedua benda langit tersebut sebenarnya tidak benar benar mendekat di ruang angkasa. Efek tersebut muncul akibat posisi Bulan dan Saturnus yang sejajar jika dilihat dari Bumi.

Menurut In The Sky, Saturnus menjadi salah satu planet yang paling menarik diamati sepanjang Agustus 2026 karena posisinya cukup baik di langit malam.

Fenomena berikutnya adalah parade enam planet yang diperkirakan berlangsung menjelang fajar pada sekitar 12 Agustus 2026. Enam planet tersebut meliputi Jupiter, Merkurius, Mars, Uranus, Saturnus, dan Neptunus.

Istilah parade planet mengacu pada kondisi ketika sejumlah planet tampak membentang di langit mengikuti bidang ekliptika. Planet planet tersebut tidak benar benar berada dalam satu garis lurus di ruang angkasa, melainkan terlihat sejajar dari sudut pandang pengamat di Bumi.

Mars dan Saturnus menjadi dua planet yang relatif mudah diamati menggunakan mata telanjang. Sementara itu, Jupiter dan Merkurius berada rendah di dekat horizon sehingga membutuhkan kondisi langit yang sangat cerah.

Adapun Uranus dan Neptunus hanya dapat diamati menggunakan binokular atau teleskop karena cahayanya terlalu redup untuk dilihat tanpa alat bantu optik.

Gerhana, Hujan Meteor, dan Fenomena Penutup Bulan Agustus

Ilustrasi Rumor gerhana matahari 2 Agustus dipastikan hoaks (Diolah berbagai sumber)

Tanggal 12 Agustus 2026 juga menjadi momen penting karena bertepatan dengan gerhana Matahari total. Fenomena ini terjadi ketika Bulan berada tepat di antara Bumi dan Matahari sehingga menutupi seluruh piringan Matahari bagi wilayah yang berada di jalur totalitas.

NASA menjelaskan bahwa jalur gerhana Matahari total akan melintasi Greenland, Islandia, Samudra Atlantik, Spanyol, sebagian Portugal, hingga Rusia bagian utara. Sementara wilayah lain hanya mengalami gerhana Matahari sebagian.

Indonesia tidak termasuk dalam jalur totalitas sehingga masyarakat di Tanah Air tidak dapat menyaksikan gerhana Matahari total secara langsung.

Dikutip dari NASA, gerhana Matahari total 12 Agustus 2026 menjadi salah satu peristiwa astronomi utama tahun ini. NASA juga menyiapkan berbagai penelitian untuk memanfaatkan momen gerhana dalam mempelajari atmosfer Bumi dan korona Matahari.

Masih pada tanggal yang sama, langit malam kembali menyuguhkan puncak hujan meteor Perseid yang berlangsung pada 12 hingga 13 Agustus 2026. Perseid dikenal sebagai salah satu hujan meteor paling populer yang selalu dinantikan setiap tahun.

Fenomena ini terjadi ketika Bumi melintasi jalur debu yang ditinggalkan Komet 109P Swift Tuttle. Partikel partikel kecil tersebut memasuki atmosfer Bumi dengan kecepatan tinggi sehingga terbakar dan menghasilkan garis cahaya yang dikenal sebagai meteor.

Menurut NASA, kondisi pengamatan Perseid pada 2026 diperkirakan cukup baik karena fase Bulan minim cahaya sehingga langit menjadi lebih gelap dan meteor lebih mudah diamati.

NASA menjelaskan:

“Perseid termasuk salah satu hujan meteor yang paling dinantikan setiap tahun dan mencapai puncaknya pada pertengahan Agustus.”

Pengamat tidak memerlukan teleskop untuk menikmati hujan meteor Perseid. Lokasi dengan langit gelap dan jauh dari polusi cahaya menjadi tempat terbaik untuk menyaksikan puluhan meteor melintas sepanjang malam.

Keistimewaan tanggal 12 Agustus semakin lengkap karena parade enam planet, gerhana Matahari total, dan puncak hujan meteor Perseid berlangsung dalam hari yang sama meski tidak semuanya dapat diamati dari satu lokasi.

Menurut Star Walk, fenomena tersebut menjadikan 12 Agustus sebagai salah satu hari paling padat dalam kalender astronomi tahun 2026. Namun, kesempatan menyaksikan setiap fenomena tetap bergantung pada wilayah pengamatan masing masing.

Menjelang akhir bulan, perhatian kembali tertuju pada Bulan melalui fenomena gerhana Bulan sebagian yang berlangsung pada 27 hingga 28 Agustus 2026, bergantung pada zona waktu.

Gerhana ini tergolong cukup dalam karena sebagian besar permukaan Bulan akan memasuki bayangan inti atau umbra Bumi. Bagian Bulan yang masuk ke dalam umbra berpotensi berubah menjadi kemerahan atau jingga sehingga sering dikaitkan dengan istilah Blood Moon.

NASA mencatat gerhana Bulan sebagian tersebut dapat diamati dari kawasan Samudra Pasifik bagian timur, Amerika, Eropa, dan Afrika. Indonesia tidak termasuk wilayah utama yang dapat menyaksikan fenomena tersebut.

Dikutip dari NASA, gerhana Bulan sebagian 28 Agustus 2026 termasuk salah satu fenomena gerhana penting sepanjang tahun 2026.

Selain gerhana dan hujan meteor, awal Agustus juga menghadirkan kesempatan mengamati Komet 10P Tempel atau Tempel 2. Komet tersebut mencapai perihelion pada 2 Agustus 2026 sebelum berada pada posisi terdekat dengan Bumi sehari kemudian.

Jarak komet saat mendekati Bumi diperkirakan sekitar 0,41 AU atau sekitar 61 hingga 62 juta kilometer. Meski demikian, komet ini bukan objek yang mudah diamati menggunakan mata telanjang.

Menurut Space.com, Komet 10P Tempel menjadi salah satu objek menarik pada awal Agustus, tetapi pengamat membutuhkan langit yang sangat cerah serta bantuan instrumen optik agar dapat melihatnya.

Selain berbagai fenomena astronomi, akhir Agustus juga diwarnai agenda penting dalam eksplorasi antariksa. NASA menargetkan peluncuran Nancy Grace Roman Space Telescope pada 30 Agustus 2026 menggunakan roket SpaceX Falcon Heavy dari Kennedy Space Center, Florida.

Roman Space Telescope dirancang untuk membantu ilmuwan mempelajari energi gelap, materi gelap, eksoplanet, hingga struktur alam semesta dalam skala luas. NASA menyebut teleskop ini memiliki bidang pandang sekitar 100 kali lebih luas dibandingkan Hubble sehingga mampu melakukan survei kosmos secara lebih efisien.

Walaupun peluncuran Roman Space Telescope bukan termasuk fenomena langit seperti gerhana atau hujan meteor, momen tersebut menjadi tambahan menarik bagi masyarakat yang mengikuti perkembangan dunia antariksa.

Dengan deretan fenomena yang menghiasi langit sepanjang Agustus 2026, bulan ini menjadi salah satu periode paling dinantikan oleh komunitas astronomi dunia. Meski sebagian besar peristiwa tidak dapat disaksikan langsung dari Indonesia, masyarakat tetap dapat mengikuti perkembangannya melalui siaran observatorium, lembaga antariksa, maupun dokumentasi para astronom dari berbagai negara.

(seo)

No more pages