Logo Bloomberg Technoz

Selain itu, ia menilai sekolah Islam terpadu memberikan pendidikan agama yang lebih kuat sejak usia dini.

"Kalau di swasta, khususnya IT (Islam Terpadu), anak-anak sudah diajarkan agama dan hafalan surat sejak dini agar anak-anak terbiasa salat duha dan sudah hafal surat-surat," ujarnya.

Pengalaman serupa disampaikan Vina, yang memilih menyekolahkan anak pertamanya di sekolah swasta di Jakarta. Menurutnya, salah satu pertimbangan terbesar adalah pengawasan guru terhadap siswa.

Ia mengaku khawatir apabila anak bersekolah di sekolah negeri karena jumlah siswa yang lebih banyak membuat perhatian guru terbagi.

"Khawatir jika di sekolah negeri itu pergaulan anak tidak terfilter karena fokus guru-guru terpecah dengan banyaknya siswa. Guru juga terbatas dalam mengawasi siswa. Dengan keterbatasan tersebut, anak-anak menjadi kurang fokus juga dalam mengejar pelajaran," kata Vina.

Menurutnya, kondisi tersebut berbeda dengan sekolah swasta yang dipilih keluarganya.

"Jumlah anak dibatasi, maksimal 20 siswa dengan dua guru di dalam kelas. Anak menjadi perhatian penuh dari guru-guru. Jika ada insiden atau kekhawatiran, orang tua bisa diakomodasi oleh sekolah, dan anak-anak menjadi senang bersekolah karena diperhatikan guru," ujarnya.

Fenomena tersebut sejalan dengan penilaian Kemendikdasmen bahwa semakin banyak keluarga muda, khususnya kelas menengah, yang bersedia membayar biaya pendidikan lebih tinggi demi memperoleh layanan pendidikan yang dinilai lebih sesuai dengan kebutuhan anak.

Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu'ti sebelumnya mengungkapkan bahwa perubahan preferensi masyarakat menjadi salah satu penyebab banyak sekolah negeri, khususnya SD dan SMP, mengalami kekurangan murid.

"Yang ketiga, memang ada tren keluarga-keluarga muda, khususnya kelas menengah, yang cenderung menyekolahkan anaknya di sekolah swasta. Alasannya bermacam-macam. Sebagian menganggap mutu sekolah swasta lebih baik. Karena itu, walaupun harus membayar biaya yang cukup mahal, mereka tidak mempermasalahkannya. Sebagian lagi memilih sekolah swasta karena alasan jarak yang lebih dekat," kata Mu'ti.

Pemerintah saat ini tengah mendata sekolah-sekolah yang memiliki jumlah murid di bawah 60 dan di bawah 100 orang, terutama jenjang SD dan SMP. Selain mempertimbangkan opsi penggabungan sekolah, pemerintah juga menyusun kebijakan jangka panjang untuk mengatasi persoalan menurunnya jumlah murid di sejumlah sekolah negeri.

(dec)

No more pages