Logo Bloomberg Technoz

Sementara penyebab ketiga adalah adanya perubahan preferensi masyarakat. Menurut Mu'ti, banyak keluarga muda, terutama dari kalangan menengah, kini lebih memilih menyekolahkan anaknya ke sekolah swasta.

"Sebagian menganggap mutu sekolah swasta lebih baik. Karena itu walaupun harus membayar biaya yang cukup mahal, mereka tidak mempermasalahkannya. Sebagian lagi memilih sekolah swasta karena alasan jarak yang lebih dekat," katanya.

Untuk mengatasi persoalan tersebut, Kemendikdasmen telah memulai pembahasan dengan Kementerian Dalam Negeri guna menyiapkan solusi menyeluruh. Menurut Mu'ti, persoalannya bukan hanya menggabungkan (merger) sekolah yang kekurangan murid, tetapi juga menyangkut penataan dan mutasi guru.

"Kami ingin solusi yang tidak hanya bersifat reaktif, tetapi juga menjadi kebijakan jangka panjang. Paling tidak pada tahun ajaran baru tahun depan sudah ada keputusan mengenai bagaimana penanganan sekolah-sekolah yang jumlah muridnya sangat sedikit," ujarnya.

Angka Kelahiran menurun

Selain itu, faktor lain mungkin perlu dikhawatirkan adalah menurunnya angka kelahiran di Indonesia. 

Dari data Badan Pusat Statistik (BPS) 2026 menunjukkan jumlah penduduk usia 0-19 tahun mencapai sekitar 88,8 juta jiwa. Di sisi lain, angka kelahiran total (Total Fertility Rate/TFR) Indonesia kini berada di 2,13 anak per perempuan, yang menunjukkan tren penurunan dibandingkan dengan lima dekade terakhir.

Fenomena ini juga terjadi di sekolah-sekolah Jepang yang disebabkan oleh krisis demografi Keluarga dan Kependudukan.

Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Olahraga, Sains, dan Teknologi Jepang (MEXT) yang mencatat penutupan sekitar 450 sekolah setiap tahun. Penurunan angka kelahiran yang drastis serta perpindahan penduduk dari desa ke kota besar membuat ruang kelas kosong dan terbengkalai.

Penyebab Utama Sekolah Sepi di Jepang

  • Angka Kelahiran Rendah: Jumlah bayi yang lahir terus merosot setiap tahunnya.
  • Urbanisasi: Kaum muda pindah ke kota besar untuk mencari kerja.
  • Populasi Menua: Jumlah anak-anak jauh lebih sedikit dibanding warga lanjut usia. 

(dec/spt)

No more pages