Logo Bloomberg Technoz

Dia mengatakan penurunan terutama terjadi pada bawang merah, cabai merah, cabai rawit, telur ayam ras, tomat, jeruk, dan beberapa jenis sayuran serta ikan. Kelompok makanan, minuman, dan tembakau menyumbang deflasi bulanan sebesar 0,26%. 

Penurunan ini, kata dia, lebih banyak mencerminkan membaiknya pasokan dan normalisasi harga setelah sebelumnya sempat tinggi, bukan penurunan permintaan terhadap seluruh barang. Pada saat yang sama, harga beras, bawang putih, ketimun, dan jengkol masih meningkat.

Sejalan dengan hal itu, Josua menilai kenaikan produksi turut membantu pasokan. Produksi beras pada Juni 2026 diperkirakan mencapai 2,47 juta ton, naik hampir 7% dibandingkan Juni tahun lalu. 

Namun, potensi luas panen Juli hingga September diperkirakan sedikit lebih rendah daripada periode yang sama tahun lalu. Ini berarti penurunan harga pangan saat ini belum tentu bertahan apabila produksi berikutnya melemah atau distribusi terganggu.

“Harga belum dapat disebut stabil secara merata. Secara tahunan, kelompok makanan, minuman, dan tembakau masih naik 2,97%. Harga beras, minyak goreng, ikan segar, daging ayam, daging sapi, dan rokok masih menjadi penyumbang inflasi,” tuturnya. 

Kemudian, tekanan yang lebih kuat terlihat pada transportasi. Harga kelompok transportasi pada Juli masih naik 5,12% secara tahunan, terutama akibat bensin dan tarif angkutan udara. 

Bahkan secara bulanan, kelompok ini masih menyumbang inflasi karena kenaikan harga bensin lebih besar daripada penurunan tarif pesawat. Komponen energi secara keseluruhan juga mengalami inflasi 3,26% secara tahunan dan 0,71% secara bulanan.

“Jadi, masyarakat mungkin merasakan harga cabai, bawang, telur, atau tomat lebih murah dibandingkan bulan sebelumnya, tetapi tetap menghadapi biaya transportasi, energi, jasa, pendidikan, sewa, cicilan, dan berbagai kebutuhan lain yang belum menurun,” ungkapnya.  

Karena itu, Josua memandang pengalaman inflasi setiap rumah tangga dapat berbeda. Rumah tangga berpendapatan rendah yang sebagian besar pengeluarannya untuk makanan dapat merasakan sedikit kelegaan, tetapi belum tentu merasakan perbaikan besar karena pengeluaran bukan pangan tetap tinggi.

Tekanan Daya Beli

Lebih lanjut dia menjelaskan, tanda tekanan daya beli terlihat dari penjualan eceran. Pada Mei 2026, penjualan eceran riil masih turun 3,9% dibandingkan tahun sebelumnya. Penjualan makanan, minuman, dan tembakau turun 4,1%, sandang turun 12%, serta peralatan informasi dan komunikasi turun 18,4%.

Dia menuturkan keyakinan konsumen memang masih berada pada tingkat optimistis, tetapi menurun. Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) turun dari 120,9 pada Mei menjadi 117,8 pada Juni. Menurutnya, penilaian masyarakat terhadap keadaan ekonomi saat ini dan harapan enam bulan ke depan juga sama-sama melemah. 

Data ini selaras dengan kecenderungan rumah tangga menjadi lebih berhati-hati, menunda pembelian barang tahan lama, mengurangi pengeluaran bukan kebutuhan pokok, dan menggunakan sebagian tabungan untuk menjaga konsumsi dasar.

Namun, keadaan tersebut belum menunjukkan kemerosotan ekonomi secara menyeluruh lantaran survei manufaktur Juli mencatat kondisi industri kembali membaik tipis, dengan produksi naik untuk pertama kali sejak Februari dan jumlah pesanan tidak lagi menurun. 

“Akan tetapi, kenaikan produksinya masih kecil, sementara harga bahan baku yang tinggi tetap membatasi pemulihan permintaan dan pesanan ekspor masih menurun,” terangnya. 

Dalam kaitan itu, Josua menilai perekonomian masih bergerak, tetapi pemulihannya tidak merata. Kegiatan sejumlah usaha dan produksi mulai membaik, sedangkan banyak rumah tangga tetap sensitif terhadap harga dan lebih selektif dalam berbelanja.

Deflasi Tak Serta Merta Inflasi Turun

Lebih jauh dia menjelaskan deflasi satu bulan juga tidak menjamin inflasi berikutnya akan terus turun. Inflasi di tingkat produsen pada kuartal II-2026 naik 5,62% dibandingkan tahun sebelumnya. Kenaikan terjadi di seluruh sektor, termasuk industri pengolahan sebesar 4,94% dan pengangkutan sebesar 6,01%. 

Artinya, biaya bahan baku, produksi, dan distribusi masih meningkat lebih cepat daripada harga yang saat ini dibayar konsumen.

Untuk sementara, lanjut dia, sebagian perusahaan mungkin menahan kenaikan harga karena permintaan belum kuat dan persaingan ketat. Akibatnya, keuntungan perusahaan tertekan. 

Namun, apabila biaya terus naik, perusahaan pada akhirnya dapat meneruskannya ke konsumen, mengurangi ukuran produk, menurunkan mutu, atau mengurangi produksi dan pekerja. Survei penjualan eceran juga menunjukkan pelaku usaha memperkirakan tekanan harga Agustus meningkat karena kenaikan harga bahan baku.

“Karena itu, inflasi 2,88% masih tergolong terkendali dan berada dalam sasaran nasional, tetapi struktur di bawahnya belum sepenuhnya nyaman. Harga pangan sedang memberikan bantuan, sedangkan tekanan biaya energi, transportasi, bahan baku, dan pelemahan rupiah masih menjadi ancaman,” jelas dia. 

Daya Beli Belum Pulih

Josua berpendapat, pemerintah sebaiknya tidak terlalu cepat menyimpulkan bahwa daya beli telah pulih hanya karena terjadi deflasi. Dia menyarankan pemerintah dapat melakukan beberapa hal yang dapat menjadi fokus kebijakan.

Di antaranya fokus utama yakni harus menjaga kesinambungan pasokan pangan melalui antisipasi musim tanam, penyediaan pupuk dan benih, penguatan cadangan pangan, perbaikan angkutan antardaerah, serta pengurangan kehilangan hasil panen. 

“Penurunan harga di tingkat konsumen juga harus tetap memastikan petani memperoleh harga yang layak agar produksi berikutnya tidak berkurang,” tuturnya. 

Fokus kedua, yakni dapat memperkuat pendapatan masyarakat, bukan sekadar menahan harga. Menurutnya, bantuan sosial harus diarahkan kepada keluarga yang benar-benar rentan, sementara penciptaan pekerjaan, dukungan kepada usaha kecil, dan pengendalian biaya transportasi serta perumahan perlu dipercepat.

Apabila harga ditahan secara luas tanpa memperbaiki produksi dan pendapatan, tekanan hanya akan berpindah kepada produsen atau anggaran negara.

Fokus ketiga, melihat indikator secara lebih lengkap. Josua menuturkan deflasi baru menjadi tanda yang mengkhawatirkan apabila berlangsung beberapa bulan, menyebar dari pangan ke harga inti, disertai penurunan penjualan, produksi, pendapatan, dan pekerjaan. 

“Saat ini kondisi tersebut belum terjadi sepenuhnya. Gambaran yang lebih tepat adalah harga pangan sedang mengalami penyesuaian turun, sementara daya beli masyarakat belum kuat dan biaya produksi masih tinggi,” imbuhnya. 

(mfd/ell)

No more pages