Harga minyak mentah telah turun sejak melonjak ke level lebih dari US$125 per barel pada April akibat negosiasi naik-turun antara AS dan Iran. Namun, margin penyulingan masih mendekati level rekor, yang berarti sebagian dari laba berlebih kemungkinan akan berlanjut hingga paruh kedua tahun ini.
Keuntungan tak terduga perusahaan-perusahaan minyak raksasa kini menjadi titik panas politik karena harga energi yang melambung memicu inflasi di seluruh dunia, terutama di AS, di mana harga bensin sekali lagi merayap di atas US$4 per galon.
Harga eceran solar, tulang punggung ekonomi global, naik lebih dari 40% dari level sebelum perang. Presiden Donald Trump bulan lalu memerintahkan Departemen Kehakiman untuk menyelidiki harga bahan bakar, yang menurutnya tidak turun cukup cepat.
Laba penyulingan ExxonMobil mencapai level tertinggi dalam empat tahun terakhir sebesar US$4,1 miliar, tetapi jauh lebih rendah dari perkiraan analis sebesar US$5,37 miliar. Perusahaan menyatakan telah memproduksi solar dalam jumlah rekor selama periode tersebut, tetapi laba “terimbangi oleh dampak pemeliharaan terjadwal.”
Kelompok-kelompok industri berpendapat bahwa laba yang tinggi hanyalah akibat ketidakseimbangan antara pasokan dan permintaan, dan perusahaan-perusahaan yang meningkatkan produksi atas desakan Trump kini menuai hasilnya.
Meski meraih laba yang luar biasa, industri minyak merupakan “bisnis dengan margin yang cukup rendah,” kata Direktur Keuangan Neil Hansen dalam wawancara. “Kami tidak cukup besar untuk memengaruhi harga; sebenarnya, tidak ada perusahaan yang mampu melakukannya.”
ExxonMobil telah meningkatkan produksi minyak mentah di operasi Permian dan Guyana, sehingga mendorong produksi perusahaan secara keseluruhan hingga setara dengan 4,5 juta barel per hari.
Cekungan Permian kini menyumbang sekitar 40% dari produksi perusahaan di seluruh dunia.
Lonjakan laba perusahaan-perusahaan minyak raksasa belum tercermin dalam kenaikan harga saham. Saham ExxonMobil naik kurang dari 3% sejak perang AS-Iran dimulai pada akhir Februari, karena sentimen investor yang meyakini bahwa laba yang didorong oleh perang akan bersifat sementara.
(bbn)































