Logo Bloomberg Technoz

Meski demikian, saham-saham energi mengalami kesulitan karena investor memandang lonjakan laba tersebut sebagai rezeki nomplok jangka pendek. Saham Chevron naik 23% pada tahun 2026, tetapi sebagian besar kenaikan tersebut terjadi dalam enam minggu pertama tahun ini. Sejak perang AS-Iran dimulai, saham tersebut hanya naik sekitar 3%.

Chevron memanfaatkan keuntungan tak terduga tersebut untuk mengurangi utang sebesar US$8,4 miliar—angka rekor—“yang memperkuat kemampuan perusahaan untuk mendanai investasi jangka panjang yang dibutuhkan guna menyediakan energi yang andal selama beberapa dekade mendatang,” kata perusahaan dalam pernyataan pada Jumat. 

“Kami mampu mengurangi utang,” kata CFO Eimear Bonner dalam wawancara. “Dan menyimpan lebih banyak uang tunai di neraca, mengingat masa-masa yang bergejolak yang kami alami saat ini.”

Program buyback saham meningkat 20% menjadi US$3 miliar pada kuartal tersebut, yang berada di batas bawah kisaran panduan. 

Harga minyak mentah yang melonjak hingga lebih dari US$125 per barel pada akhir April menyumbang sebagian besar kenaikan laba Chevron.

Meski harga minyak telah turun kembali ke kisaran US$90, margin penyulingan tetap mendekati level rekor karena pasokan solar, bahan bakar jet, dan bensin menghadapi kelangkaan di berbagai wilayah. Serangan Ukraina terhadap kilang-kilang minyak Rusia semakin memperparah kelangkaan tersebut.

Chevron meningkatkan produksi sebesar 20% menjadi setara dengan 4,07 juta barel per hari. Aset-aset di Teluk Meksiko AS dan Kazakhstan meningkatkan produksi selama kuartal tersebut, sementara perusahaan juga mendapat manfaat dari integrasi aset Hess Corp yang diperoleh melalui akuisisi senilai US$55 miliar tahun lalu. Produksi Chevron di AS mencapai rekor tertinggi.

Chevron mengoperasikan kilang-kilangnya di AS hampir pada kapasitas penuh, dengan tingkat utilisasi di atas 97%, menurut pernyataan tersebut. Laba dari produksi bahan bakar AS melonjak menjadi US$2,4 miliar, lebih dari 10 kali lipat laba kuartal sebelumnya.

Kilang-kilang Chevron di luar negeri juga berkembang pesat, mengubah kerugian sebesar US$1 miliar pada kuartal pertama menjadi laba sebesar US$2,5 miliar tiga bulan kemudian. 

Dengan kurang dari 5% produksinya berasal dari Timur Tengah, Chevron memiliki sedikit aset yang secara langsung terpengaruh oleh perang Iran, tetapi perusahaan masih terpapar risiko konflik global.

Serangan drone terhadap kapal tanker di dekat pelabuhan Novorossiysk di Laut Hitam Rusia memaksa Kazakhstan, tempat Chevron mengoperasikan ladang minyak raksasa Tengiz, untuk sementara mengurangi produksi minyak setelah pipa pengangkut minyak mentah sempat berhenti menerima pasokan.

Chevron berhasil mencapai target penghematan biaya struktural sebesar US$3 miliar enam bulan lebih awal dari jadwal, demikian pernyataan perusahaan.

(bbn)

No more pages