Logo Bloomberg Technoz

Pertimbangan ini juga yang sepertinya membuat Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara, diperkirakan menunda rencananya untuk menerbitkan obligasi dolar AS. Penundanaan ini terjadi lantaran lanskap pendanaan global sedang berubah. 

Melansir Bloomberg News, Danantara diperkirakan memilih menunggu momentum yang lebih baik setelah investor meminta imbal hasil (yield) lebih tinggi dibandingkan target perusahaan, untuk obligasi tenor 20 tahun dan 30 tahun. 

Pada saat yang sama, yield US Treasury tenor 30 tahun melonjak ke level tertinggi hampir dua dekade, ke 5,2%. Hal ini membuat biaya pendanaan jangka panjang terkerek naik secara signifikan. 

Selain itu, tantangan bagi Danantara yang hendak menerbitkan obligasi juga datang dari memburuknya sentimen terhadap Indonesia, setelah pengunduran diri mendadak Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo. Investor tak cuma memperhatikan fundamental fiskal, tetapi juga stabilitas kelembagaan negara. 

"Snetimen investor terhadap obligasi dolar Indonesia semakin melemah, setelah pengunduran diri gubernur bank sentral," kata Zerlina Zeng, Head of Asia Credit di CreditSights Singapura, seperti dikutip Bloomberg News

Dalam pasar obligasi internasional, perubahan mendadak pada posisi pengambil kebijakan moneter dapat diterjemahkan sebagai meningkatnya ketidakpastian. Apalagi, saat ini Indonesia masih menghadapi tekanan nilai tukar rupiah, pelebaran defisit transaksi berjalan, serta meningkatnya volatilitas pasar keuangan global. 

Zeng menambahan, investor juga masih kurang yakin dengan rekam jejak investasi dan operasional Danantara yang masih terbatas, lantaran adanya kekhawatiran terkait tata kelola dan transparansi. 

Karenanya, keberhasilan penerbitan perdana obligasi internasional Danantara bulan lalu, senilai US$1,5 miliar, belum bisa menjamin bahwa penerbitan berikutnya berjalan mulus. Sebab, semakin panjang tenor obligasi, semakin besar juga perhatian investor terhadap kualitas institusi daripada keuangan jangka pendek.

Sehingga dalam jangka panjang, keberhasilan Danantara sebenarnya tak ditentukan oleh seberapa cepat lembaga ini menerbitkan obligasi, melainkan kemampuannya membangun kepercayaan investor internasional secara berkelanjutan. 

(dsp/aji)

No more pages