Bank Indonesia (BI) pun merepons dengan menurunkan total nominal yang dimenangkan 11,76%, menjadi Rp15 triliun dari sebelumnya Rp17 triliun. Selain itu, BI juga terlihat mengubah komposisi tenor yang dimenangkan. Pada lelang 17 Juli, tenor 12 bulan menyumbang hampir 98% dari total pemenang.
Hanya berselang sepekan, porsinya turun menjadi sekitar 94%, sementara alokasi tenor 6 bulan meningkat hampir empat kali lipa, dari Rp200 miliar menjadi Rp793 miliar. Sebaliknya, tenor 9 bulan justru dipangkas menjadi hanya Rp64 miliar.
Sepertinya BI ingin memperbesar porsi tenor yang lebih pendek, agar memperoleh fleksibilitas lebih tinggi utuk menyesuaikan operasi moneter jika kondisi pasar berubah cepat. Bukan tanpa sebab, saat lelang ini digelar arah kebijakan suku bunga The Fed belum terlihat.
Meski kini The Fed menahan suku bunga acuannya seiring yield US Treasury tenor 30 tahun sempat terkerek 24,9 basis poin (bps) sepanjang bulan Juli menjadi 5,2%, tetapi pasar mengartikan pernyataan Gubernur Kevin Warsh sebagai nada hawkish.
Namun demikian, yield SRBI tetap bertahan tinggi. Yield rata-rata tertimbang pemenang tenor 6 bulan berada di 7,2%, tenor 9 bulan sekitar 7,41%, dan tenor 12 bulan sekitar 7,63%. Yield tersebut bisa dikatakan cukup kompetitif, terlebih jika dibandingkan dengan yield Surat Utang Negara (SUN) tenor 1 tahun berada di kisaran 7,02%, namun juga lebih rendah jika dibandingkan lelang SRBI sebelumnya.
Sehingga, bagi investor asing yang meminati aset rupiah, SRBI masih memiliki daya tarik. Terlihat juga dari kepimilikan non-resident SRBI pada Juni meningkat menjadi Rp293,16 triliun, dari posisi Mei Rp216,48 triliun. Adapun bagi BI, yield tersebut mengindikasikan bahwa posisi tawar BI dalam operasi pasar tetap kuat meski permintaan menurun.
Direktur Eksekutif Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas, Erwin Hutapea, mengatakan BI akan terus memanfaatkan berbagai instrumen, termasuk intervensi di pasar valuta asing, serta optimalisasi instrumen moneter seperti SRBI, untuk menjaga stabilitas nilai tukar sekaligus mendorong masuknya aliran modal asing.
“BI terus berkomitmen menjaga stabilitas di tengah ketidakpastian global yang tinggi, stabilisasi nilai tukar rupiah terus diperkuat sehingga konsisten mendukung pencapaian sasaran inflasi dan mendorong kegiatan ekonomi," kata Erwin
(dsp/aji)
































