Logo Bloomberg Technoz

Akhmad menjelaskan kenaikan suku bunga juga berdampak pada konsumsi rumah tangga. Masyarakat yang memiliki kredit pemilikan rumah (KPR) maupun berencana membeli kendaraan melalui kredit akan menghadapi biaya cicilan yang lebih tinggi. Kondisi tersebut berpotensi membuat masyarakat menunda konsumsi.

Akibatnya, permintaan terhadap produk industri dapat melemah sehingga memberikan tekanan tambahan bagi sektor riil. 

“Karena lebih mahal mungkin sebagian merasa enggak mampu lagi menjangkaunya, maka mungkin akan menunda pembelian. Nah itu menekan sektor riil,” jelas Akhmad.

Permintaan Kredit Melambat

Selain memengaruhi konsumsi, kenaikan BI-Rate juga akan ditransmisikan ke suku bunga kredit perbankan. Menurut Akhmad, setelah proses transmisi berlangsung, biaya pinjaman akan meningkat sehingga permintaan kredit berpotensi melambat.

“Nanti akan ada proses di mana data menunjukkan bahwa pada akhirnya ketika tingkat suku bunga lebih tinggi, maka kemudian penyaluran kredit akan menjadi lebih rendah,” tuturnya.

Di tengah kenaikan suku bunga, pertumbuhan kredit perbankan pada Juni 2026 masih tercatat sebesar 12,67% secara tahunan (year on year/yoy), meningkat dibandingkan 11,51% (yoy) pada Mei 2026. BI memperkirakan pertumbuhan kredit sepanjang 2026 tetap berada pada kisaran 8%-12%.

Sementara itu, nilai fasilitas pinjaman yang belum digunakan (undisbursed loan) tercatat mencapai Rp 2.490 triliun, atau setara 21,52% dari total plafon kredit yang tersedia.

(mfd/ell)

No more pages