Logo Bloomberg Technoz

Namun, pernyataan ini memicu spekulasi dari pelaku pasar bahwa ada pergeseran fokus BI dari instrumen suku bunga menuju kebijakan makroprudensial. 

Seperti dikutip Bloomberg News, Wee Khoon Chong, Senior Asia-Pacific Market Strategist di BNY, menilai BI akan menyempurnakan instrumen moneter di luar suku bunga acuan.

Hal ini, menurutnya, juga dapat jadi sinyal bahwa suku bunga kemungkinan akan dipertahankan pada level saat ini untuk sementara waktu. 

Suku Bunga Vs Makroprudensial

Meski strategi BI lebih mengarah pada instrumen makroprudensial, menurut Kepala Ekonom PT Bank Permata (BNLI), Josua Pardede, penguatan instrumen non-suku bunga tidak lantas membuat BI Rate kehilangan perannya, sebab kebijakan makroprudensial menjadi instrumen pelengkap, bukan pengganti BI Rate. 

"Dalam kondisi tekanan rupiah yang bersifat sementara, BI dapat mempertahankan suku bunga dan lebih dahulu menggunakan intervensi, pengelolaan suku bunga instrumen moneter, serta fasilitas lindung nilai," kata Josua kepada Bloomberg Technoz

Ia juga menambahkan, apabila tekanan menjadi luas dan menetap, hanya kebijakan suku bunga yang memberikan sinyal menyeluruh bahwa BI bersedia mempertahankan nilai rupiah dan mengendalikan inflasi.

Sehingga, peran antara BI Rate dan operasi moneter masing-masing difokuskan menjaga stabilitas rupiah dan inflasi, sedangkan kebijakan makroprudensial diarahkan menjaga likuiditas perbankan dan pembiayaan sektor riil.

Kebijakan makroprudensial pada dasarnya cukup efektif untuk mengurangi efek samping pengetatan moneter terhadap ekonomi, tetapi pengaruh langsungnya terhadap rupiah terbatas. 

Melalui insentif likuiditas, BI dapat menekan biaya dana perbankan, mengurangi ketimpangan likuiditas antarbank, serta mempertahankan pertumbuhan kredit. 

Pada akhirnya, kondisi ekonomi yang tetap tumbuh dan sistem keuangan yang terjaga akan memperkuat kepercayaan investor terhadap rupiah. 

Meski demikian, ia menegaskan bahwa pengaruh kebijakan makroprudensial terhadap nilai tukar bersifat tidak langsung. Sebab, instrumen ini tidak menambah pasokan valuta asing maupun meningkatkan daya tarik aset berdenominasi rupiah. 

Karena itu, stabilisasi rupiah tetap lebih bergantung pada instrumen moneter seperti intervensi di pasar valuta asing, pengelolaan suku bunga pasar uang, dan penerbitan instrumen moneter yang menawarkan yield yang kompetitif. 

(dsp/aji)

No more pages