Selain itu, menurut Aviliani, instrumen yang bisa dipakai untuk memperkuat rupiah adalah suku bunga yang saat ini digunakan oleh BI melalui Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI).
SRBI diharapkan menjadi salah satu celah bagi asing untuk menanamkan investasinya untuk menstabilkan nilai tukar rupiah.
“Tapi yang banyak masuk ya bank, perbankan yang masuk kesana. Dan ini juga jadi kontraproduktif, kenapa? Kalau suku bunga kredit 8%, SRBI 7,7% orang pilih mana? [SRBI] Akhirnya intermediasi terkorbankan,” kata Aviliani
Oleh karena itu menurutnya perlu keharmonisan antar anggota Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) baik dari fiskal dan moneter untuk bekerja sesuai dengan kapasitasnya masing-masing.
Efisiensi Hingga Menaikkan Harga
Dengan penurunan nilai tukar rupiah tersebut, pengusaha masih akan melihat sejauh mana nilai tukar harus memaksa para pengusaha untuk meningkatkan harga barang, atau bahkan memperkecil produksi namun menaikkan harga dengan sangat tinggi.
“Dan yang pasti sebelum kesitu ke efisiensi dulu. Sekarang efisiensi besar-besaran di semua sektor supaya bisa bertahan untuk mendapatkan margin,” kata Aviliani.
Sebagai informasi, Rupiah di pasar Non-Deliverable Forward (NDF) masih tertekan hari ini. Rupiah offshore mendapat sedikit tenaga, tetapi penguatannya terbatas.
Pada Rabu (29/7/2026) pukul 08.05 WIB, rupiah offshore menguat 0,1% ke Rp18.149/US$, seiring terkikisnya indeks dolar Amerika Serikat (AS) 0,1% ke 101,37.
Pergerakan rupiah semakin terbebani oleh kondisi ketidakpastian setelah pengunduran diri Perry Warjiyo dari kursi Gubernur Bank Indonesia (BI).
Hari ini, pergerakan rupiah diperkirakan masih akan tertekan mengingat sebagian besar investor memasang mode risk-off dan semakin hati-hati serta selektif terhadap aset di pasar negara berkembang.
(ell)





























