Di periode yang sama, Mandiri Saving Index tercatat sebesar 84,8, terkontraksi 5,7% yoy. Sebaliknya, indeks pinjaman, yang mencakup pinjaman online atau peer to peer lending, kartu kredit, serta paylater perusahaan pembiayaan non-bank, mencapai 157,7 atau tumbuh 24,6% yoy.
Oleh karena itu, Bank Mandiri menilai penguatan tingkat penghasilan perlu menjadi prioritas agar konsumsi ke depan lebih ditopang oleh kapasitas keuangan rumah tangga yang lebih kuat. Kebijakan untuk menjaga pendapatan disposabel atau sekali pakai, menahan tekanan biaya hidup, serta mendorong penciptaan lapangan kerja menjadi penting agar momentum konsumsi tetap terjaga lebih sehat.
Kredit Non-Bank Terus Naik
Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Bank Indonesia (BI), total outstanding pinjaman online, kartu kredit, dan paylater (non-bank) mencapai Rp160,7 triliun pada Mei 2026. Dari jumlah tersebut, outstanding pinjaman online tercatat sebesar Rp103,7 triliun, atau sekitar 65% dari total gabungan ketiga pembiayaan tersebut.
Sementara itu, outstanding kartu kredit mencapai Rp43,8 triliun (27%), dan paylater yang disalurkan perusahaan pembiayaan sebesar Rp13,2 triliun (8%). Pertumbuhan tertinggi ditunjukkan oleh paylater (53,6% yoy), diikuti peer to peer lending (25,7%), dan kartu kredit (15,6%).
Mayoritas Pinjaman Online untuk Biayai Konsumsi
Berdasarkan data OJK, porsi pinjaman online untuk kebutuhan konsumtif meningkat menjadi 86% pada April 2026, dari 78% pada April 2025 dan 68% pada April 2024. Sebaliknya, porsi pinjaman untuk kegiatan produktif terus menurun menjadi hanya 14%.
"Pergeseran ini menunjukkan kenaikan pinjaman lebih banyak didorong oleh kebutuhan konsumsi rumah tangga, sementara permintaan pembiayaan untuk aktivitas usaha menjadi lebih terbatas," tercantum dalam laporan tersebut.
(lav)































