Josua memperingatkan risiko terbesar dapat muncul apabila pemerintah membangun kapasitas produksi baru tanpa kepastian permintaan.
"Dalam kondisi seperti ini, membangun pabrik baru tanpa kepastian pasar dapat berujung pada kelebihan kapasitas, biaya produksi tinggi, harga jual tidak kompetitif, dan kebutuhan subsidi berkepanjangan," tekannya.
Kondisi tersebut juga turut didukung dengan kondisi sektor manufaktur saat ini masih menghadapi tekanan. Indeks PMI Manufaktur Indonesia pada Juni 2026 berada di level 46,9, mencerminkan kontraksi aktivitas industri yang ditandai penurunan pesanan baru, produksi, pembelian bahan baku, hingga penyerapan tenaga kerja.
Adapun ia juga mengingatkan pemerintah agar tetap menjaga iklim persaingan usaha yang sehat. Menurutnya, pasar motor listrik Indonesia saat ini telah diisi berbagai merek lokal maupun asing yang lebih dahulu berinvestasi.
"Jika pemerintah masuk dengan merek baru tetapi tidak menjaga persaingan yang sehat, pelaku industri yang sudah lebih dulu berinvestasi bisa merasa dirugikan," kata Josua.
"Karena itu, peran pemerintah sebaiknya bukan menjadi pesaing langsung seluruh pemain, melainkan membangun standar, memperkuat permintaan, memberi kepastian insentif, dan mendorong rantai pasok dalam negeri."
Kendati begitu, menurut Josua, nilai tambah dari pembangunan industri motor listrik nasional akan besar apabila Indonesia mampu mengembangkan teknologi di luar sekadar perakitan kendaraan.
"Nilai tambah terbesar justru muncul bila Indonesia mampu menguasai desain, baterai, pengendali motor, perangkat lunak kendaraan, pengisi daya, jaringan penukaran baterai, suku cadang, perawatan, dan daur ulang baterai. Indonesia memiliki peluang karena pasar sepeda motor sangat besar dan pemerintah juga mendorong konversi motor BBM ke motor listrik secara bertahap," tuturnya.
Sebelumnya, BPI Danantara memastikan peluncuran motor listrik nasional yang akan dilakukan oleh Presiden Prabowo Subianto merupakan desain insinyur dalam negeri dan merupakan merek baru.
"Nanti akan ada merek baru dan desainnya by Indonesian engineers, desain dari kita. Desain dan production dari kita," kata Chief Technology Officer (CTO) Danantara Sigit Puji Santosa ditemui di Kompleks Istana Kepresidenan, Rabu (22/7/2026).
Sementara itu, Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin diketahui melakukan peninjauan ke kawasan industri kendaraan listrik nasional di Kabupaten Subang, Jawa Barat, Selasa (21/6/2026).
Dalam unggahan media sosialnya, Sjafrie menekankan bahwa kawasan tersebut dirancang sebagai ekosistem manufaktur terpadu untuk mendukung produksi Mobil dan Motor listrik nasional yang dilengkapi dengan fasilitas baterai, pusat penelitian, dan pengembangan, pengujian kendaraan, jaringan logistik kereta api, serta berbagai industri pendukung.
"Pembangunan ini merupakan langkah strategis untuk memperkuat kemandirian industri, penguasaan teknologi, penciptaan lapangan kerja, dan pelaksanaan ekonomi nasional berdasarkan Pasal 33 UUD 1945," ujarnya.
Kepastian peluncuran motor listrik nasional mulanya disampaikan Presiden Prabowo Subianto dalam acara Panen Raya TNI dalam Mendukung Program Ketahanan Pangan di Lanud Abdulrachman Saleh, Kabupaten Malang, Jawa Timur, Jumat (17/6/2026).
RI 1 ini bahkan mengatakan akan meluncurkan motor listrik nasional dalam beberapa pekan ini.
"Sebentar lagi kita sudah punya motor nasional. Saya akan launching [meluncurkan] beberapa minggu ini motor listrik nasional," ujar Prabowo.
Di sisi lain, ia menegaskan pemerintah tidak hanya menargetkan hadirnya motor listrik nasional, tetapi juga ingin membangun industri kendaraan nasional yang mampu menghasilkan mobil buatan anak bangsa.
"Kita akan punya motor buatan anak-anak Indonesia, kita [juga] akan punya mobil buatan anak-anak Indonesia," tegasnya.
(ain)































