Pembaruan ini juga menandai langkah Samsung memasuki arena yang semakin ramai. Whoop Inc., pembuat gelang kebugaran tanpa layar, memiliki pelatih virtual AI yang terintegrasi dalam platformnya.
Sama halnya dengan Fitbit Air terbaru dari Google (bagian dari Alphabet Inc.). Oura Health Oy, merek cincin pintar terkemuka, menawarkan fitur serupa, dan Apple Inc. sedang mengembangkan sesuatu yang sejenis.
Meski demikian, pendekatan Samsung berbeda karena fitur-fitur tersebut dapat memberikan informasi kepada ekosistem Samsung yang lebih luas, kata Dr. Hon Pak, VP senior yang mengawasi bisnis kesehatan digital.
Tool baru ini menggabungkan mesin data yang dipersonalisasi milik perusahaan, yang memindai perangkat untuk mencari informasi seperti acara kalender dan jadwal perjalanan yang dapat digunakan untuk menyesuaikan rekomendasi.
“Dengan perangkat yang terhubung pada akhirnya akan menjadi dasar bagi cara kita berinteraksi dengan pengguna secara lebih kontekstual,” kata Pak dalam sebuah wawancara.
Ambil contoh, sistem mungkin mendeteksi bahwa lampu pintar Samsung milik pengguna tidak dimatikan hingga pukul 11.30 malam, yang mengindikasikan bahwa mereka mungkin telah melewatkan waktu yang tepat untuk bersantai, yang pada akhirnya akan berdampak pada kualitas tidur.
Sistem ini pada akhirnya juga akan mampu melakukan hal-hal seperti menyarankan latihan pernapasan menjelang rapat yang dijadwalkan dan berpotensi menimbulkan stres tinggi, atau menyesuaikan panduan tidur jika mendeteksi perjalanan melintasi zona waktu.
Pengguna juga dapat mengajukan pertanyaan kepada asisten mengenai bagaimana data tidur, nutrisi, aktivitas, dan data lainnya saling berinteraksi, serta menerima wawasan yang dapat ditindaklanjuti tentang cara melakukan perbaikan yang berarti.
Lantas, bagaimana cara mencapai tidur yang lebih konsisten. Dijelaskan bahwa sistem dapat merujuk pada data dari hari-hari sebelumnya dan menawarkan bimbingan yang dipersonalisasi mengenai langkah-langkah selanjutnya.
Seperti produk dan tool lain di bidang gadget kebugaran, asisten AI baru Samsung ini tidak mendiagnosis kondisi kesehatan, memberikan saran medis, atau menyarankan pengobatan. “Untuk saat ini, kami menetapkan batasan-batasan terkait semua hal tersebut,” kata Pak.
Samsung juga bekerja sama dengan lembaga-lembaga medis, termasuk National Institutes of Health, Centers for Disease Control and Prevention, dan Massachusetts Institute of Technology, untuk meminimalkan risiko AI memberikan respons yang tidak akurat, serta memastikan jawaban-jawaban tersebut didasarkan pada penelitian medis.
Ragam fitur tersebut juga dilindungi oleh langkah-langkah privasi dan keamanan di seluruh tingkatan perangkat software, hardware, dan chip, jelas Pak.
Fitur baru lainnya yang akan hadir di Samsung Health termasuk Vitals. Tugasnya menganalisis data kesehatan utama sepanjang malam — termasuk detak jantung, variabilitas detak jantung, dan kadar oksigen darah — serta memberi peringatan jika terdapat perubahan signifikan dari nilai dasar pengguna.
Fitur lain, yang disebut Daily Cardio Load, bertujuan membantu pengguna memahami intensitas latihan kardiovaskular mereka dengan mempertimbangkan tingkat aktivitas dan status pemulihan. Ada juga Heart Health Score baru yang bertujuan memberikan gambaran lebih komprehensif mengenai kebugaran pengguna dengan mempertimbangkan data lain seperti tidur dan aktivitas.
Pembaruan tambahan mencakup Vascular Load, yang memberikan wawasan mengenai pola tekanan darah dan bagaimana pola tersebut dapat berubah seiring waktu. Sementara itu, Fitness Index menilai kemajuan berdasarkan metrik seperti konsumsi oksigen maksimal, detak jantung, dan data aktivitas.
Bloomberg melaporkan bahwa Samsung juga sedang mengembangkan platform kesehatan secara diam-diam, yang diperkirakan akan diluncurkan paling cepat pada akhir 2026, dengan tujuan menjembatani kesenjangan antara data kesehatan pengguna dan dokter.
Pak mengatakan bahwa baik fitur kesehatan baru maupun platform tersebut merupakan bagian dari apa yang disebut perusahaan sebagai fokus pada “first and last mile” — artinya, fitur-fitur tersebut tidak hanya mendeteksi masalah kesehatan sejak dini, tetapi juga memastikan pasien dapat lebih mudah menjalankan rencana pengobatan yang diberikan dokter.
Visi Samsung untuk platform ini adalah bahwa setelah pasien meninggalkan ruang praktik, dokter dapat terus memantau data dari perangkat wearable pasien untuk melihat perkembangan tekanan darah dan metrik lainnya dari waktu ke waktu, guna membantu mereka lebih memahami apa yang terjadi di antara kunjungan klinis.
Platform ini akan dikembangkan berdasarkan akuisisi Samsung pada tahun 2025 terhadap Xealth, sebuah startup yang membantu menghubungkan dokter dan rumah sakit dengan data dari perangkat wearable.
“Hasil tersebut akan dikirimkan kembali ke dokter tanpa pasien perlu melakukan apa pun selain menerima instruksi tersebut,” kata Pak.
Dokter akan dapat “meresepkan” pola perilaku, seperti memantau tekanan darah, berolahraga lebih sering, atau menerapkan pola makan rendah garam. Data dari Samsung Health dapat membantu mendorong pengguna untuk menindaklanjuti anjuran tersebut.
Di masa depan, lanjut Pak, platform ini mungkin dapat mengetahui makanan apa saja yang ada di lemari es pengguna dan menambahkan apa yang dibutuhkan ke keranjang belanja digital di ponsel Galaxy mereka.
“Kami mengusulkan dan sedang berupaya untuk mengambil langkah-langkah perawatan tersebut — yang sering kali berakhir di tempat sampah setelah kunjungan ke dokter — dan mengubahnya menjadi tindakan spesifik yang berfungsi sebagai pemicu otomatis bagi pengguna,” pungkas dia.
(bbn)
































