Keputusan BI ini menunjukkan bahwa bank sentral memilih memberi waktu agar dampak kenaikan suku bunga kumulatif 100 bps sejak Mei dapat tersalurkan ke perekonomian, sembari tetap mempertahankan sikap hawkis terhadap stabilitas nilai tukar.
Langkah BI ini sejalan dengan pandangan Kepala Ekonom PT Bank Permata (BNLI), Josua Pardede, yang sejak awal memperkirakan BI akan menahan suku bunga di 5,75%. Menurut Josua, sumber tekanan harga pada inflasi Juni yang tercatat 3,34% lebih banyak berasal dari biaya dan pasokan, bukan permintaan domestik yang terlalu panas.
Josua berpendapat dalam kondisi seperti ini, kenaikan suku bunga tambahan hanya akan memberi pengaruh terbatas terhadap inflasi, tetapi dapat menambah tekanan pada biaya kredit dan aktivitas sektor riil.
Dari sisi sektor keuangan, alasan BI menahan suku bunga salah satunya adalah sinyal kredit masih perlu dijaga.
(dsp/aji)




























