Purbaya menjelaskan perbaikan tersebut dilakukan melalui restrukturisasi organisasi, termasuk perombakan pegawai dan jajaran pimpinan. Pejabat yang kini menduduki posisi strategis di lingkungan Bea Cukai memiliki komitmen yang lebih kuat untuk menjalankan reformasi.
“Bea Cukai progresnya sudah amat baik. Kita sudah kocok ulang pegawai-pegawai di sana dan sekarang yang di pucuk-pucuk pimpinan sudah orang-orang yang relatif lebih baik. Mereka tahu kalau mereka enggak baik, mereka akan dibubarkan. Itu yang penting tadi,” ujarnya.
Dia menuturkan perbaikan kinerja juga terlihat dari meningkatnya penindakan terhadap berbagai praktik ilegal, termasuk peredaran pakaian bekas impor (balpres), rokok ilegal, dan penyelundupan emas. Selain menyita barang ilegal, Bea Cukai kini memperketat penegakan hukum dengan menahan kendaraan yang digunakan untuk mengangkut barang selundupan hingga seluruh proses hukum selesai.
Sebelumnya, kata Purbaya, kendaraan maupun pengemudi kerap dilepaskan setelah barang ilegal disita sehingga tidak menimbulkan efek jera.
“Setiap truk atau kendaraan yang melakukan praktik ilegal, tahan dulu sampai clear betul. Saya tahan betul supaya cost untuk melakukan praktik ilegal itu menjadi mahal. Itu saya harapkan akan membuat aktivitasnya turun dengan signifikan supaya mereka kapok,” jelas Purbaya.
Selain memperkuat penindakan di lapangan, DJBC juga mulai memanfaatkan teknologi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) untuk meningkatkan pengawasan di pelabuhan. Menurut Purbaya, sistem tersebut akan terintegrasi dengan sejumlah kantor Bea Cukai di berbagai wilayah Indonesia guna meningkatkan efektivitas pengawasan dan penindakan.
Namun, Purbaya belum memerinci cakupan implementasi, kebutuhan anggaran, maupun target penyelesaian proyek tersebut. Pemerintah berencana memperkenalkan sistem AI tersebut kepada media dalam beberapa pekan mendatang.
(lav)





























