Tarif tersebut diterapkan berdasarkan Pasal 122 Undang-Undang Perdagangan (Trade Act), yang memberikan kewenangan kepada presiden untuk mengenakan bea masuk tambahan sebesar 10 persen selama maksimal 150 hari guna mengatasi defisit neraca pembayaran. Pengadilan Perdagangan Internasional AS juga sempat membatalkan tarif tersebut, namun putusannya hanya berlaku bagi para penggugat sehingga tarif tersebut tetap berlaku bagi sebagian besar importir lainnya.
Dengan melanjutkan rencana tarif terbaru, Trump menegaskan komitmennya terhadap kebijakan tarif meskipun kekhawatiran pemilih mengenai tingginya biaya hidup terus meningkat menjelang pemilu sela pada November mendatang.
Para pengkritik menilai kebijakan tersebut akan menaikkan harga berbagai barang konsumsi impor. Namun, Trump dan para pejabat tinggi pemerintahannya berpendapat bahwa tarif diperlukan untuk membangun kembali kekuatan industri manufaktur AS sekaligus melindungi industri dalam negeri.
Pemerintah AS pekan ini juga berjanji akan mengenakan tarif sebesar 50 persen terhadap banyak produk asal Kanada, yang menandai eskalasi terbaru dalam perselisihan dagang antara kedua negara. Pekan lalu, Washington juga memutuskan untuk mengenakan tarif 25 persen terhadap berbagai produk asal Brasil.
Berdasarkan usulan Kantor Perwakilan Dagang Amerika Serikat (USTR) terkait penanganan praktik kerja paksa dalam produksi barang impor, produk dari puluhan negara dan kawasan, termasuk Kanada, Meksiko, Uni Eropa, dan Taiwan, akan dikenakan tarif sebesar 10 persen. Sementara itu, barang impor dari sejumlah ekonomi besar lainnya, termasuk China, India, dan Jepang, akan dikenakan tarif sebesar 12,5 persen.
Perwakilan Dagang AS Jamieson Greer pada Selasa mengatakan implementasi akhir hasil penyelidikan terkait praktik kerja paksa akan segera dilakukan, meskipun ia belum bersedia memberikan rincian lebih lanjut. Tarif tersebut akan diterapkan berdasarkan Pasal 301 Undang-Undang Perdagangan, yang memberikan kewenangan kepada presiden untuk secara sepihak mengenakan tarif terhadap praktik perdagangan asing yang dinilai merugikan perdagangan AS.
"Kami memperkirakan akan segera ada tindakan. Saya belum bisa memberikan jadwal secara spesifik saat ini karena saya memiliki tanggung jawab untuk terlebih dahulu memberikan penjelasan kepada Kongres dan para pemangku kepentingan lainnya sebelum mengumumkan hal tersebut. Namun kami memperkirakan langkah itu akan segera diambil," ujar Greer kepada CNBC, Selasa (21/7).
Meski demikian, gelombang tarif lain yang berasal dari penyelidikan terpisah mengenai kelebihan kapasitas produksi diperkirakan belum akan diberlakukan pada Jumat ini. Sejumlah pejabat pemerintah dalam beberapa waktu terakhir menyatakan proses penyelidikan tersebut masih berlangsung.
Sesuai prosedur, hasil usulan tersebut masih harus melalui masa konsultasi publik dan dengar pendapat sebelum tarif dapat diterapkan. Dengan demikian, pemberlakuan kembali secara penuh tarif darurat yang diinginkan Trump baru akan dilakukan pada waktu yang lebih kemudian.
(bbn)































