Purbaya menyebut bahwa pertimbangan pemeringkat China memberikan peringkat AAA untuk surat utang Indonesia tersebut karena fundamental ekonomi yang solid.
Selain itu, lembaga tersebut memandang bahwa skala ekonomi Indonesia merupakan yang terbesar di Asia Tenggara dan tahan terhaap guncangan eksternal.
Selain Bank of China, penerbitan tersebut juga didukung oleh Joint Bookrunners yang terdiri atas ICBC, CITIC, CICC, dan DPS. Sementara itu, sejumlah institusi keuangan besar di China turut bergabung sebagai Co-Managers, yakni Agricultural Bank of China, China Construction Bank (CCB), Bank of Communications, China CITIC Bank, dan China Everbright Bank.
Sebagai informasi, pemerintah berencana menerbitkan surat utang global dengan denominasi remnibi bertajuk Panda Bond. Penerbitan ini menjadi langkah diversifikasi pembiayaan anggaran pemerintah supaya opsi pendanaan tak hanya bergantung pada negara tertentu saja.
Purbaya menyebut Panda Bond akan memiliki yield yang cukup rendah yakni di kisaran 2,3% sampai 2,5%.
Sebelumnya, pemerintah berencana untuk menerbitkan obligasi ini di awal Juli namun ditunda menjadi akhir Juli 2026. Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa mengatakan, penundaan itu karena mengakomodasi tingginya minat investor besar di China.
Purbaya juga menyebut bahwa Pemerintah China menyambut rencana penerbitan perdana Panda Bond Indonesia di pasar keuangan domestik China. Menurut Purbaya, baik Kementerian Keuangan China maupun PBOC menunjukkan komitmen kuat untuk mendukung proses penerbitan surat utang tersebut.
"Kami meminta dukungan untuk penerbitan Panda Bond dan mereka amat mendukung. Bahkan ketika bertemu PBOC, kami meminta percepatan perizinan. Mereka menyampaikan bahwa begitu dokumen pengajuan resmi masuk, prosesnya akan segera dipercepat," kata Menkeu.
(ell)


























