Kontrak minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman September, yang kini menjadi kontrak paling aktif diperdagangkan, berada di kisaran US$82 per barel setelah melonjak lebih dari 5% dalam dua sesi sebelumnya. Sementara itu, minyak mentah Brent ditutup di atas US$89 per barel pada Senin (20/7).
Amerika Serikat memulai hari ke-10 berturut-turut serangan militernya setelah Donald Trump berjanji Iran "akan membayar" atas tewasnya prajurit AS. Sebagai balasan, Iran meluncurkan rudal dan pesawat nirawak ke wilayah Kuwait.
Pada hari Senin, kelompok Houthi yang disokong Iran menegaskan bakal menerapkan larangan terhadap lalu lintas kapal laut dari Arab Saudi. Langkah ini mengancam rute pelayaran Laut Merah yang selama ini diandalkan Saudi untuk mengekspor jutaan barel minyak mentah per hari melalui jaringan pipa lintas negara guna menghindari Selat Hormuz.
“Jika terjadi gangguan pada infrastruktur, khususnya pada jalur pelayaran utama, hal itu dapat memicu lonjakan tajam pada harga minyak,” ujar Rob Thummel,
Manajer Portofolio Senior di Tortoise Capital LLC, menanggapi ancaman Houthi tersebut. “Stok cadangan minyak saat ini telah menyusut, sehingga tidak ada ruang toleransi untuk kesalahan sedikit pun.”
Kendati demikian, upaya-upaya diplomasi terus berjalan di belakang layar. Pihak Iran menyampaikan bahwa para mediator telah menjalin komunikasi dan membawa usulan guna meredakan ketegangan usai rentetan bentrokan sengit selama sepekan terakhir, sementara Reuters melaporkan adanya draf usulan moratorium atau penghentian serangan selama 10 hari.
Laju harga minyak sendiri tercatat terus bergerak fluktuatif merespons dinamika prospek eskalasi maupun peluang deeskalasi konflik tersebut.
(ell)


























