Kembali masuknya investor ke obligasi tenor pendek dan menengah mencerminkan bahwa sebagian pelaku pasar sepertinya mulai mengantisipasi kondisi yang lebih stabil setelah beberapa hari sebelumnya terjadi aksi jual cukup besar di pasar obligasi.
Data yang dihimpun Bloomberg menunjukkan aksi jual sempat melanda pasar obligasi. Per tanggal 17 Juli senilai US$133,2 juta secara harian, dan US$490,9 juta secara mingguan.
Sejalan dengan penguatan di pasar SUN, pemerintah hari ini menggelar lelang obligasi pemerintah dengan target penghimpunan dana sebesar Rp32 triliun, dengan maksimal target 150% atau sekitar Rp48 triliun.
Pemerintah melelang setidaknya 9 seri obligasi yang terdiri dari 3 SPN baru dan 6 seri obligasi negara, seperti dalam tabel berikut.
Turunnya yield di pasar sekunder, terutama pada tenor yang berdekatan dengan seri yang dilelang seperti FR0109 (jatuh tempo 2031) dan FR0108 (jatuh tempo 2036).
Di tengah ekspektasi kenaikan BI Rate, pemerintah kemungkinan masih harus menawarkan yield yang kompetitif, terutama untuk seri tenor panjang. Sebab, investor sepertinya masih menuntut premi risiko yang lebih tinggi pada sebagian tenor tersebut.
Permintaan premi tinggi bukan tanpa alasan. Pelaku pasar menilai sejumlah sentimen masih membayangi pergerakan pasar obligasi domestik.
Di antaranya, ketidakpastian mengenai prospek inflasi, harga minyak, kondisi fiskal, hingga arah kebijakan moneter global masih membayangi sehingga minat pada obligasi tenor panjang belum pulih sepenuhnya.
(dsp/aji)































