Suporter dan tim tamu pun melontarkan pujian kepada tuan rumah Amerika Serikat, sebuah perubahan positif di tengah citra negara itu yang kian memburuk akibat kebijakan tarif, perang dengan Iran, serta kebijakan imigrasi yang membuat seorang wasit asal Afrika dan sejumlah pemegang tiket tidak dapat menghadiri turnamen.
Namun, obsesi FIFA terhadap uang dan kekuasaan di atas segalanya tak pelak mencoreng turnamen yang sejatinya berlangsung meriah. Sorotan utama datang dari intervensi Trump untuk membela seorang bintang Amerika Serikat yang sedang menjalani skorsing, serta proses pengambilan keputusan yang tidak transparan, yang pada akhirnya mengakomodasi keinginan Presiden AS tersebut.
Insiden Balogun
Pada Minggu, gelandang sekaligus kapten Spanyol, Rodri, menerima trofi Piala Dunia dari Presiden FIFA Gianni Infantino bersama Presiden AS Donald Trump. Keduanya disambut dengan siulan dan cemoohan dari penonton di stadion, yang dipicu terutama oleh satu peristiwa.
Pada fase gugur, Trump menelepon Infantino dan meminta agar Folarin Balogun, yang dijatuhi larangan bermain satu pertandingan setelah menerima kartu merah saat menghadapi Bosnia dan Herzegovina, diizinkan kembali memperkuat Amerika Serikat pada laga babak 16 besar melawan Belgia.
Tak lama kemudian, Komite Disiplin FIFA menangguhkan hukuman tersebut selama satu tahun—keputusan yang belum pernah terjadi sebelumnya—sehingga penyerang Amerika Serikat itu dapat tampil, meski mendapat keberatan dari Asosiasi Sepak Bola Kerajaan Belgia (Royal Belgian Football Association).
Desakan Infantino bahwa Komite Disiplin FIFA bertindak secara independen langsung ditolak oleh para penggemar. Mereka menunjuk pada upaya tanpa henti bos FIFA itu untuk mengambil hati Trump, termasuk dengan menciptakan secara mendadak FIFA Peace Prize dan menganugerahkannya kepada Trump tahun lalu.
Para pengkritik menilai rangkaian peristiwa tersebut sebagai contoh terbaru dari praktik korupsi yang telah lama mengakar di FIFA, sekaligus bukti bahwa Amerika Serikat menggunakan pengaruhnya untuk mendapatkan apa yang diinginkannya.
"Saya pikir mereka seharusnya memecat presiden FIFA," kata Chloe Ligsay, pesepak bola berusia 22 tahun asal California yang sedang berkunjung ke New York dan mengenakan jersey tim nasional putra Amerika Serikat. "Menurut saya, politik seharusnya tidak ikut campur dalam olahraga."
Namun, keputusan mengejutkan yang membebaskan Balogun dari hukuman itu tetap tidak mampu menyelamatkan Amerika Serikat. Tim tersebut tampil buruk dan kalah 4-1, hasil yang membuat skandal itu tidak sepenuhnya menutupi jalannya turnamen.
Insiden tersebut justru membakar semangat Belgia, sementara Balogun kemudian mengakui bahwa kehebohan akibat intervensi Trump menjadi gangguan besar bagi tim Amerika Serikat.
Setelah Amerika Serikat kalah dari Belgia, Balogun langsung menghampiri pelatih tim Belgia.
"Dia datang untuk berbicara dengan saya. Saya sangat menghargai itu," kata pelatih Belgia, Rudi Garcia, dalam wawancara usai pertandingan. "Ini bukan salahnya. Dia bukan pihak yang harus disalahkan, dan itulah yang saya sampaikan kepadanya."
Namun, itu bukan satu-satunya insiden politik yang memicu kontroversi selama Piala Dunia.
Lionel Messi dan sejumlah pemain Argentina merayakan kemenangan atas Inggris di semifinal dengan membentangkan spanduk milik seorang suporter yang mendukung klaim Argentina atas Kepulauan Falkland (Malvinas). Aksi tersebut mendorong pemerintah Inggris mendesak FIFA untuk melakukan penyelidikan. Kedua negara pernah berperang memperebutkan kepulauan di lepas pantai Argentina itu pada 1982.
Di sisi lain, pelatih Mesir terlihat mengangkat dan mengibarkan bendera Palestina setelah timnya mengalahkan Australia pada babak 32 besar. Sementara itu, tim nasional Iran melontarkan keluhan keras karena harus terbang keluar-masuk Amerika Serikat pada setiap hari pertandingan dari pemusatan latihan mereka di Meksiko akibat sanksi yang diberlakukan AS.
Lebih Banyak Uang, Lebih Banyak Masalah
Meski mencatat kesuksesan besar secara komersial, FIFA masih menghadapi banyak pertanyaan mengenai masa depan turnamen ini.
Format baru yang diikuti 48 tim, yang oleh banyak pihak dinilai terlalu besar, justru menghadirkan kisah-kisah mengejutkan dari tim-tim nonunggulan. Sebanyak tujuh negara berhasil melaju ke fase gugur untuk pertama kalinya dalam sejarah mereka.
Meski demikian, Presiden FIFA Gianni Infantino telah melontarkan gagasan untuk kembali memperluas Piala Dunia menjadi 64 tim pada edisi 2030.
Namun, belum jelas langkah seperti apa yang sebenarnya paling tepat bagi masa depan Piala Dunia. Turnamen ini sudah berkembang menjadi ajang yang sangat besar, dengan total 104 pertandingan yang digelar selama 39 hari.
Para pemain pun semakin vokal mengkritik padatnya jadwal pertandingan yang harus mereka jalani akibat tuntutan dari FIFA, liga domestik, dan konfederasi sepak bola regional.
Para penggemar juga mulai jenuh dengan fokus dunia sepak bola yang dinilai semakin mengutamakan keuntungan finansial. Untuk pertama kalinya dalam sejarah Piala Dunia, FIFA menerapkan dynamic pricing untuk penjualan tiket, yakni sistem yang secara otomatis menyesuaikan harga berdasarkan permintaan secara real time dan ketersediaan tiket.
Hasilnya, harga tiket Piala Dunia mencapai rekor tertinggi.
"Saya punya perasaan campur aduk terhadap FIFA," kata Asad Hussain, seorang suporter asal Nashville, saat menghadiri laga semifinal pertama antara Prancis dan Spanyol. "Sejujurnya, saya rasa penyelenggaraan Piala Dunia sudah baik. Namun, dengan penerapan dynamic pricing, ditambah berbagai persoalan tiket dan visa, saya pikir hal itu benar-benar menyulitkan banyak orang untuk bisa datang menyaksikan pertandingan."
FIFA berhasil memaksimalkan setiap potensi pemasukan dari Piala Dunia kali ini. Selain mengambil bagian dari penjualan makanan dan minuman di stadion serta biaya penjualan kembali tiket, organisasi tersebut bahkan menjual potongan rumput lapangan tempat final Argentina melawan Spanyol digelar.
Dengan harga US$3.000, penggemar dapat memiliki sepotong kecil rumput lapangan yang diawetkan dalam resin, lengkap dengan replika trofi Piala Dunia berbahan kaca berpotongan kristal.
FIFA juga telah menemukan cara untuk menjamin pemasukan yang lebih besar pada masa mendatang. Penonton berkali-kali mencemooh penerapan "hydration breaks" atau jeda minum yang menuai kontroversi karena menghentikan jalannya pertandingan tahun ini.
Meski FIFA menyatakan keputusan tersebut semata-mata diambil demi keselamatan dan kesehatan pemain yang bertanding di tengah cuaca ekstrem, jeda itu secara tidak langsung juga memberi waktu tambahan bagi stasiun televisi pemegang hak siar—seperti Fox di Amerika Serikat—untuk menayangkan lebih banyak iklan.
Sejumlah perkiraan menyebutkan bahwa tarif iklan berdurasi 30 detik selama Piala Dunia biasanya berkisar antara US$250.000 hingga US$750.000, bergantung pada fase turnamen, laga yang berlangsung, serta jumlah penonton yang diperkirakan menyaksikan pertandingan tersebut.
Dengan adanya dua kali jeda minum (hydration breaks) di setiap pertandingan, stasiun televisi memperoleh delapan slot iklan tambahan berdurasi 30 detik dalam satu laga. Artinya, sepanjang turnamen yang terdiri dari 104 pertandingan, tersedia 832 slot iklan baru.
Inventaris iklan tambahan itu berpotensi menghasilkan pendapatan hampir US$500 juta, tergantung pada tarif rata-rata dan premi yang dikenakan. Jumlah tersebut bahkan dapat menutup lebih dari separuh biaya yang kabarnya dibayarkan Fox untuk memperoleh hak siar Piala Dunia.
Hal ini pada akhirnya membuka peluang bagi FIFA untuk meraup pendapatan yang lebih besar lagi pada penjualan hak siar berikutnya. Organisasi tersebut diketahui telah mulai memasarkan secara diam-diam hak siar Piala Dunia 2030.
"Kami memiliki ekspektasi yang tinggi," kata Cesar Conde, Chairman NBCUniversal News Group, yang memperoleh hak siar berbahasa Spanyol untuk Piala Dunia di Amerika Serikat, dalam sebuah acara media.
"Namun, bahkan dalam bayangan kami sekalipun, kami tidak pernah memperkirakan basis penggemarnya di Amerika Serikat akan seantusias ini."
Peningkatan pendapatan tersebut membuat FIFA dan para anggotanya memiliki sedikit insentif untuk mengubah arah, meskipun ketidakpuasan di kalangan suporter dan pemain terus meningkat.
Rencana memperluas jumlah peserta menjadi 64 tim bahkan diperkirakan akan memperparah tantangan logistik pada Piala Dunia 2030, yang akan digelar di enam negara tuan rumah. Namun di sisi lain, format tersebut juga berarti lebih banyak uang bagi semua pihak, yang pada akhirnya semakin memperkuat posisi Gianni Infantino.
Setiap asosiasi anggota FIFA memiliki satu suara dalam pengambilan keputusan, termasuk terkait masa depan Infantino. Presiden FIFA yang tengah menjadi sorotan itu diperkirakan akan kembali mencalonkan diri tanpa penantang pada pemilihan ulang yang dijadwalkan berlangsung pada Maret 2027.
Saat ini, FIFA memiliki 211 asosiasi anggota di seluruh dunia yang secara kolektif telah menerima dana sebesar US$2,25 miliar dari FIFA dalam tiga tahun terakhir. Selain itu, hadiah yang diperoleh dari lolos ke putaran final Piala Dunia dapat menjadi suntikan dana yang sangat berarti bagi negara-negara kecil.
Cape Verde, misalnya, meraup sekitar US$12 juta dari kiprahnya di turnamen ini. Jumlah tersebut menjadi pemasukan yang sangat penting bagi negara berpenduduk sekitar 530.000 jiwa itu, yang bahkan tidak memiliki satu pun lapangan sepak bola berumput alami.
"Kami ingin menghasilkan lebih banyak pendapatan, dan kami memang harus menghasilkan lebih banyak pendapatan. Sebab, di sebagian besar wilayah dunia—sekitar 80% negara—jika kami tidak berinvestasi dan tidak memberikan dukungan, tidak akan ada pihak lain yang melakukannya," kata Infantino dalam sebuah pernyataan pada Sabtu.
"Kalau tidak, konsentrasi sumber daya akan terus terkumpul di segelintir negara besar, dan keadaan akan tetap seperti sekarang."
Sehari menjelang laga final Piala Dunia, FIFA menyatakan bahwa lebih dari 200 asosiasi anggotanya telah menyatakan dukungan kepada Infantino untuk kembali maju dalam pemilihan presiden FIFA mendatang.
Prioritas yang Berbenturan
Salah satu tujuan utama FIFA adalah mengembangkan sepak bola di seluruh dunia, dan organisasi tersebut menggelontorkan dana miliaran dolar untuk mewujudkannya. Namun, para suporter semakin curiga bahwa kepentingan finansial telah mengalahkan kepentingan olahraga, hingga perubahan aturan yang sebenarnya dimaksudkan untuk membuat pertandingan lebih adil justru memicu kontroversi—dan dinilai juga memiliki motif komersial.
Penonton di Toronto sempat bersorak merayakan pada detik-detik akhir pertandingan babak gugur Piala Dunia, 2 Juli lalu, ketika bek Kroasia Joško Gvardiol berhasil menjebol gawang Portugal untuk menyamakan kedudukan.
Namun, kegembiraan itu hanya berlangsung sesaat.
Meski gol tersebut tampak sah di mata penonton, wasit menganulirnya setelah sensor di dalam bola (in-ball sensor)mendeteksi sentuhan yang sangat tipis dari kepala atau rambut salah satu rekan setim Gvardiol. Sentuhan mikroskopis itu membuat pemain tersebut dinyatakan berada dalam posisi offside, sehingga gol dibatalkan.
Setelah pertandingan usai, tim Kroasia mengecam keputusan tersebut sebagai "penyalahgunaan teknologi", sementara para pengkritik menilai teknologi yang seharusnya membantu membuat sepak bola lebih adil justru membawa lebih banyak mudarat daripada manfaat.
Bagi FIFA, insiden itu bukanlah masalah. Sebaliknya, hal tersebut dipandang sebagai peluang untuk menghasilkan uang, sejalan dengan rencana organisasi tersebut membentuk masa depan sepak bola melalui pemanfaatan kecerdasan buatan (AI), computer vision, dan berbagai teknologi lainnya.
FIFA telah mengumpulkan lebih dari 150 juta titik data dari setiap pertandingan, dan kini tengah mencari cara untuk mengomersialisasikan data tersebut sebagai sumber pendapatan baru.
"Ada potensi komersial yang sangat besar," kata Chief Business Officer FIFA, Romy Gai, dalam sebuah wawancara.
(bbn)
































