Logo Bloomberg Technoz

“Tentu ada juga premiumnya kita tidak tahu persis [besarannya]. Model minyak sanksi seperti ini juga rawan penumpang gelap yang bisa bermasalah di kemudian hari,” kata Hadi ketika dihubungi, Selasa (21/7/2026).

5 Jenis Minyak Mentah Asal Rusia yang Terpantau Dicari Pertamina (Bloomberg Technoz/Asfahan)

Banyak Dampak

Hadi bahkan menyatakan PT Pertamina (Persero) sudah berulang kali mengkaji membeli minyak mentah Rusia, tetapi tidak terealisasi dalam waktu yang sangat lama.

Dia menilai membeli minyak mentah dari Rusia lebih banyak memberikan potensi dampak buruk, alih-alih keuntungan. Alasannya, jika Indonesia terkena sanksi, sektor industri lainnya berpotensi terimbas.

Hadi menyatakan banyak industri yang memiliki klausul untuk tidak menjalin kerja sama dengan negara yang dikenakan sanksi oleh Amerika Serikat (AS).

“Jika dilanggar, maka punishment akan dikenakan dan tidak ada lagi korporasi keuangan AS yang mau deal dengan korporasi dengan Indonesia. Ini tantangan yang tidak mudah diselesaikan kalau sudah urusan finance,” tegasnya.

Adapun, Indonesia dikabarkan telah mengimpor minyak mentah asal Rusia jenis ESPO pada akhir Juni 2026, melalui Pelabuhan Lawe-Lawe, Kalimantan Timur yang terintegrasi dengan Kilang Balikpapan.

Berdasarkan data platform informasi dan perdagangan komoditas Echemi, harga minyak mentah ESPO untuk pasar spot di China atau Shandong ESPO Spot pada 17 Juli 2026 berada di level US$89,1/barel.

Sementara itu, harga minyak mentah ESPO forward spot di pasar China, pada 20 Juli 2026 tercatat US$81,08/barel.

Harga minyak ESPO di pasar forward spot China terpaut sekitar US$9,64/barel dibandingkan dengan ICE Brent, yang dilego di kisaran US$90,20/barel.

Sementara itu, West Texas Intermediate (WTI) pada hari ini diperdagangkan US$84,25/barel, sehingga minyak ESPO di pasar forward spot China hanya terpaut sekitar US$3,54/barel dengan WTI.

Adapun, Kyiv School of Economics (KSE) Institute mencatat harga rata-rata minyak mentah ESPO dengan basis FOB Kozmino pada Mei 2026—atau periode kemungkinan Indonesia melakukan pemesanan — adalah US$95/barel atau naik US$2,3/barel dari rata-rata harga bulan sebelumnya.

Harga tersebut belum termasuk ongkos pengangkutan, asuransi pengiriman.

“Harga ESPO FOB Kozmino naik sekitar US$2,3/barel dan diperdagangkan di kisaran US$95/barel pada Mei,” tulis KSE Institute dalam riset berjudul Russian Oil Tracker edisi Juni 2026.

KSE mencatat diskon harga ESPO sepanjang Mei 2026 terhadap Brent menyempit sekitar US$13/barel. Dengan begitu, harga ESPO dinilai makin mendekati Brent.

Adapun, berdasarkan data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), rata-rata Dated Brent pada Mei 2026 tercatat sekitar US$107,55/barel, turun US$12,99/barel dari rata-rata harga bulan sebelumnya di level US$120,55/barel.

Sementara itu, harga ICE Brent pada Mei 2026 tercatat sebesar US$103,71/barel. Dengan begitu, harga ESPO Mei 2026 hanya terpaut sekitar US$8,71/barel dari ICE Brent Mei 2026.

Jika dibandingkan dengan WTI Mei 2026, harga ESPO hanya terpaut US$3,51/barel dengan rata-rata harga WTI Mei 2026 sebesar US$98,51/barel.

“Sebelum invasi, minyak mentah Urals FOB secara konsisten diperdagangkan dengan diskon US$1—US$2 per barel dibandingkan dengan Dated Brent, sementara minyak mentah ESPO FOB diperdagangkan dengan premi kecil,” tulis KSE Institute.

Tanker Sierra./dok. Vessel Finder

Sekadar informasi, kapal tanker Sierra berbendera Kamerun dikabarkan telah mengirimkan sekitar 770.000 ribu barel minyak mentah ESPO ke pelabuhan Lawe-Lawe, dari pelabuhan muat Kozmino di Rusia.

Minyak mentah tersebut disebut-sebut diimpor oleh badan layanan umum (BLU), Lemigas dengan nilai sekitar US$75 juta.

Pelabuhan Lawe-Lawe merupakan salah satu pintu masuk crude ke Kilang Balikpapan. PT Pertamina Patra Niaga (PPN) tercatat memiliki dua tangki penyimpanan minyak mentah di terminal Lawe-Lawe dengan kapasitas masing-masing 1 juta barel.

Selain itu, PPN juga memiliki fasilitas single point mooring (SPM) dengan kapasitas 320.000 dead weight ton (dwt). Fasilitas SPM tersebut tersambung dengan pipa ke pelabuhan Lawe-Lawe dan dari pelabuhan tersebut menuju Kilang Balikpapan.

Berdasarkan data pelayaran Marine Traffic, tanker Sierra telah meninggalkan Lawe-Lawe pada 30 Juni 2026. Saat ini tanker tersebut berada di area labuh jangkar di Pelabuhan Vladivostok, Rusia.

Kapal pengangkut minyak mentah tersebut tercatat terkena sanksi oleh sejumlah negara, antara lain; Inggris, Uni Eropa (UE), Kanada, Australia, Ukraina, hingga Selandia Baru.

Dalam dokumen pengadaan minyak mentah PPN pada Mei, tercatat perusahaan pelat merah tersebut sempat mengumumkan rencana pembelian minyak mentah secara spot ke Kilang Balongan untuk pengiriman Juni.

Dalam dokumen tersebut, salah satu minyak mentah yang dicari oleh PPN merupakan jenis ESPO atau minyak mentah asal Rusia.

Disebutkan bahwa PPN mencari minyak mentah ESPO maksimal 315.000 barel pada pengadaan yang diumumkan 29 Mei 2026.

Kendati begitu, belum diketahui pasti volume minyak mentah yang telah masuk ke Indonesia melalui pelabuhan Lawe-Lawe dan kilang mana yang mengolahnya.

“Pada hari Jumat, tanggal 29 Mei 2026, PT Pertamina Patra Niaga mengumumkan rencana pembelian secara spot Minyak Mentah ke RU VI Balongan untuk periode pengiriman Juni 2026,” sebagaimana tertulis dalam dokumen pengumuman pengadaan minyak mentah PPN.

Crude oil ESPO Max 315 MB [315.000 barel]. Delivery CFR/DAP RU VI Balongan [Kilang Balongan],” tulis PPN.

(azr/wdh)

No more pages