Di level Asia, indeks saham bergerak variatif, Hang Seng (Hong Kong) menjadi yang terbaik dengan lesatan lebih dari 2%.
Disusul oleh Shanghai Composite (China) yang tumbuh 1,88%, CSI 300 (China) yang naik 1,55%, PSEI (Filipina) dengan penguatan 0,98%.
Namun Nikkei 225 (Jepang) ambruk 4,03%, Kospi (Korea Selatan) jatuh 3,49%, Nifty 50 (Indiia) melemah 0,5%, dan KLCI (Malaysia) terkoreksi 0,31%.
Pelaku pasar sepertinya masih mengambil sikap wait and see. Sebab, dunia masih berada di bawah ancaman inflasi mengingat harga minyak yang melambung tinggi.
Pada pukul 12:14 WIB, harga minyak jenis brent melesat 2,4% ke US$ 90,21/barel. Ini menjadi yang tertinggi dalam lebih dari sebulan terakhir.
Sepertinya kenaikan suku bunga acuan sulit untuk dihindari. Di Amerika Serikat (AS), bank sentral Federal Reserve kemungkinan bakal menaikkan suku bunga dalam rapat September mendatang.
Mengutip CME FedWatch, probabilitas kenaikan Federal Funds Rate sebesar 25 basis poin (bps) menjadi 3,75-4% pada rapat September adalah 52,4%. Lebih tinggi ketimbang posisi sepekan lalu yakni 51,2%.
(aji)





























