Dinamika di Timur Tengah masih menjadi perhatian pelaku pasar. Amerika Serikat (AS) dan Iran sama-sama mengintensifkan serangan di tengah konflik yang terjadi bahkan usai kesepakatan gencatan senjata.
“AS menginjak-injak semua komitmen mereka di bawah kesepakatan di Islamabad. Jadi kami juga menghentikan komitmen kami, dan tidak mengimplementasikannya,” tegas Kazem Gharibabadi. Wakil Menteri Luar Negeri Iran, sebagaimana diwartakan Bloomberg News.
Akhir pekan lalu, AS menyerang wilayah selatan Iran di mana enam jembatan jadi ‘korban’ serangga tersebut. Media Iran juga melaporkan ada serangan di Kota Bushehr (Provinsi Lorestan).
Iran pun membalas. Teheran menyerang basis militer AS di Kuwait, Yordania, Bahrain, dan Oman.
Konflik di Timur Tengah membuat harga minyak melejit. Pada pukul 09:00 WIB, harga minyak jenis brent melonjak 2,4% ke US$ 90,22/barel.
“Risiko di Asia makin memburuk. Penurunan harga saham teknologi, penguatan dolar AS, kenaikan harga minyak, dan tensi geopolitik yang terus tinggi membuat pelaku pasar bersikap defensif,” kata Wee Khoon Chong, Macro Strategist di BNY yang berbasis di Hong Kong, seperti dinukil dari Bloomberg News.
BRI Danareksa Sekuritas (BRIDS) dalam risetnya menyebut, pelaku pasar akan mencermati hasil Rapat Dewan gubernur (RDG) Bank Indonesia (BI) pekan ini. Investor juga akan memantau keberlanjutan arus dana asing sebagai konfirmasi penguatan pasar.
"Secara teknikal, IHSG masih berpeluang melanjutkan tren penguatan selama bertahan di atas support 6.100, dengan target menguji resistance 6.200–6.242. Kembalinya akumulasi asing dan peningkatan momentum beli menjadi katalis positif bagi pergerakan IHSG dalam jangka pendek," tulis riset BRIDS.
Saham-saham pilihan BRIDS untuk perdagangan hari ini adalah BBCA, ASII, dan TLKM.
(aji)






























