1. Fraksinasi (Distilasi):
Pada unit penyulingan minyak mentah atau crude distillation unit (CDU), teknisi menggeser titik potong (cut-point) suhu.
Fraksi minyak menengah yang biasanya dialokasikan untuk solar ditarik lebih cepat ke atas agar masuk ke aliran minyak tanah (kerosene) yang merupakan bahan baku avtur.
2. Hydrocracking:
Proses ini dilakukan pada unit pemecah molekul (hydrocracker) dengan menyesuaikan kembali suhu dan katalis.
Alih-alih mengoptimalkan keluaran (yield) untuk fraksi minyak gas atau gasoil alias solar, perengkahan didorong secara maksimal untuk menghasilkan fraksi minyak tanah (kerosene).
3. Kerosene Hydrotreating (Kero-HTU):
Pada tahap ini, teknisi memurnikan fraksi minyak tanah tersebut untuk menghilangkan kandungan sulfur dan senyawa tak jenuh.
Proses ini bertujuan agar produk memenuhi standar ketat penerbangan internasional (Jet A-1), seperti titik beku (freezing point) maksimal -47°C.
Proses Lanjutan
Senada dengan Yayan, praktisi senior minyak dan gas bumi sekaligus perwakilan Ikatan Ahli Teknik Perminyakan Indonesia (IATMI) Hadi Ismoyo menyebutkan konversi solar ke avtur ini membutuhkan proses teknis lanjutan pada fasilitas pengolahan minyak bumi.
"Secara teoretis, solar bisa dikonversi menjadi avtur dengan pengolahan tahap lanjut," tutur Hadi ketika dihubungi pada Senin (20/7/2026).
Hadi menekankan, dalam praktiknya, proses ini memerlukan dukungan kilang modern, seperti proyek pengembangan kilang atau refinery development master plan (RDMP) Balikpapan dan Cilacap.
Kilang-kilang modern ini memiliki kemampuan untuk mengatur kolom distilasi agar menghasilkan fraksi avtur yang lebih dominan daripada bensin dan solar guna menjaga kestabilan volume output.
Meski demikian, Hadi menyebut penyesuaian ini tidak instan. Proses tersebut membutuhkan pemilihan bahan baku yang tepat serta modifikasi infrastruktur yang memerlukan biaya tidak sedikit.
"Tentu Pertamina akan membahas minyak mentah dengan spesifikasi fraksi ringan yang lebih banyak," jelasnya.
"Estimasi kasar untuk modifikasi kolom refraksi bervariasi, yakni sekitar US$15 juta atau setara dengan sekitar Rp240 miliar," tambahnya.
Dengan kesiapan teknologi swing operation di kilang modern seperti RDMP Balikpapan dan RDMP Cilacap, tantangan surplus solar akibat program B50 diharapkan dapat diubah menjadi peluang swasembada avtur nasional demi menekan ketergantungan impor.
Sebelumnya, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia mengklaim Indonesia bakal mengalami surplus solar sekitar 3 hingga 4 juta kiloliter (kl) setelah berlakunya biodiesel B50. Nantinya, pemerintah akan mendorong solar tersebut untuk diolah menjadi avtur.
Bahlil menyatakan bahwa kementeriannya sedang menyusun peta jalan pengembangan avtur bersama PT Pertamina Patra Niaga (PPN).
Dia pun menargetkan pembangunan pabrik pengolahan avtur dapat dimulai pada akhir 2026. Pabrik tersebut direncanakan agar Indonesia dapat menghentikan impor avtur.
"Tahap berikutnya, kita akan mendorong pembangunan pabrik avtur karena bahan baku avtur itu hampir sama dengan solar. [...] Tujuannya adalah kita akan mencoba untuk tidak lagi melakukan impor avtur," kata Bahlil setelah peresmian B50 di Karawang, Kamis (9/7/2026).
Bahlil juga mendorong agar bensin bernilai oktan (RON) 92, 95, dan 98 ikut dapat diproduksi seluruhnya dari kilang dalam negeri guna mengurangi ketergantungan impor.
Dia menguraikan bahwa rata-rata konsumsi solar nasional mencapai 38—40 juta kl per tahun. Selama ini, Indonesia secara historis mengimpor sekitar 3—4 juta kl solar per tahun.
"Dengan implementasi B50, kita tidak akan lagi melakukan impor produk solar ke negara kita. Ini adalah pencapaian yang pertama kali terjadi," pungkasnya.
(wdh)
































