Dalam laporannya di hadapan para regulator, Rachmat memaparkan bahwa hingga paruh pertama tahun 2026, perusahaan telah mencatatkan kemajuan performa yang positif.
“Manajemen melaporkan realisasi produksi semester I-2026 telah mencapai 46 ribu ton katoda tembaga dan 3,7 ton emas. Di samping itu, perusahaan juga mengamankan produksi 14,6 ton perak beserta volume selenium dan asam sulfat yang terus meningkat,” jelasnya.
Adapun, fasilitas smelter yang berlokasi di Pulau Sumbawa tersebut mengadopsi Double Flash Technology (DFT), dengan desain kapasitas masukan (input) dirancang mampu mengolah hingga 900 ribu ton konsentrat per tahun, yang seluruh pasokannya dipenuhi dari area pertambangan Batu Hijau milik perseroan.
“Jika beroperasi dalam kapasitas penuh secara tahunan, fasilitas ini didesain untuk memproduksi sekitar 220 ribu ton katoda tembaga, 18 ton emas, 55 ton perak, 77 ton selenium, serta produk sampingan asam sulfat mencapai 830 ribu ton per tahun,” jelas Rachmat.
Di sisi lain, target produksi pada 2026 ini menjadi titik balik penting bagi perseroan, setelah menghadapi serangkaian kendala operasional selama fase commissioning dan ramp-up yang dimulai sejak Juni 2024.
Rachmat mengungkapkan bahwa perusahaan sempat menghadapi tantangan teknis berat sepanjang periode Februari hingga Agustus 2025.
“Terjadi kebocoran pada acid cooling. Kemudian juga terjadi kebocoran yang mengakibatkan kebakaran ringan pada area flash smelting furnace. Itu terjadi di awal tahun 2025, sehingga menghambat produksi dan membutuhkan perbaikan yang sangat panjang pada saat itu,” kata Rachmat.
Langkah mitigasi dan perbaikan menyeluruh yang diinisiasi manajemen pada akhir tahun 2025 akhirnya mulai membuahkan hasil. Setelah melakukan pengujian ulang (re-commissioning) pada Februari 2026, operasional smelter berangsur pulih dan menunjukkan performa stabil sejak kuartal kedua tahun ini.
“Pada sekitar April 2026 kemarin, operasi sudah mulai berjalan dan ramping-up berjalan dengan baik. Sehingga pada sekitar Juni 2026, itu kami sudah bisa memproses seluruh produksi yang dihasilkan oleh tambang saat ini,” tambahnya.
Sebagai informasi, sepanjang tahun 2025, AMMN mencatat total produksi konsentrat tembaga sebesar 446.563 metrik ton kering. Angka ini melampaui target panduan awal perusahaan sekitar 4%, meskipun secara tahunan (year-on-year) mengalami penurunan sebesar 41% dibandingkan pencapaian tahun 2024.
Dari total konsentrat yang diproduksi, volume kandungan tembaga yang dihasilkan mencapai 209 juta pon. Sektor tembaga ini tercatat 8% di bawah target tahunan yang dipatok oleh perseroan.
Sementara itu, untuk komoditas emas, sepanjang 2025 AMMN sukses memproduksi sebanyak 102.758 ons, yang mana hasil ini justru 14% lebih tinggi dibandingkan panduan target awal mereka.
Tahun 2025 sendiri menjadi periode transisi krusial bagi perusahaan karena mulainya operasional penambangan Fase 8 di Tambang Batu Hijau yang saat itu masih didominasi bijih berkadar rendah.
Di samping itu, penurunan produksi secara tahunan juga dipengaruhi oleh aktivitas hilir, di mana smelter tembaga baru milik AMMN sempat dihentikan sementara pada Juli dan Agustus 2025 untuk proses perbaikan kompleks pada fasilitas Flash Converting Furnace (FCF) dan Sulfuric Acid Plant (SAP) guna menjaga stabilitas jangka panjang.
(smr/ros)































