Pandangan tersebut juga disuarakan oleh produsen chip besar lainnya. SK Hynix Inc. kini memperkirakan kelangkaan chip memori yang sedang berlangsung akan berlanjut hingga melampaui tahun 2030.
Bos Hynix, raksasa asal Kora Selatan, menyebut bahwa lonjakan belanja oleh operator pusat data telah mengakibatkan permintaan yang tinggi baik untuk memori konvensional maupun chip HBM (High-Bandwidth Memory) yang digunakan dalam sistem AI.
“Permintaan akan akselerator AI dan CPU server membuat kapasitas pada proses 3 nm dan 5 nm tetap terbatas, alhasil volume produksi menjadi pendorong potensi kinerja yang melampaui perkiraan,” urai analis dari Bloomberg Intelligenc, Charles Shum dan Steven Tseng.
Keduanya menambahkan, “margin kotor mungkin berada di kisaran atas panduan, didorong oleh ekspektasi pemanfaatan penuh kapasitas teknologi terdepan serta penetapan harga yang mengimbangi penurunan margin akibat perluasan pabrik di luar negeri.”
Meski begitu, kekhawatiran investor tetap belum hilang 100% sebab operator pusat data terbesar, seperti Alphabet Inc., dan pemain AI lainnya menghabiskan begitu banyak uang setiap tahun untuk peralatan.
Belanja jor-joran ini, sebagian besar didapatkan dari hasil pinjaman sehingga jumlahnya membengkak. Di sisi lain, belum ada jaminan bahwa investasi yang sangat besar tersebut akan menghasilkan keuntungan yang menggiurkan.
TSMC yang berbasis di Hsinchu telah menyatakan bahwa mereka akan mengalokasikan dana hampir US$56 miliar (setara Rp1.016 triliun) — angka yang mendekati rekor—untuk belanja modal di 2026.
Produsen chip asal Taiwan ini dijadwalkan merilis laporan keuangan lengkap serta memberikan pembaruan mengenai prospek tahunan dan pengeluaran mereka pada hari Kamis.
(red)

































