Namun, berbagai keluhan itu kemungkinan besar akan mereda setelah turnamen berakhir. Setelah Amerika Serikat dihajar Belgia 4-1, intensitas kontroversi terkait diizinkannya penyerang AS Folarin Balogun bermain mulai berkurang. Sementara itu, Infantino tetap fokus pada tugas yang mungkin paling penting baginya: menghasilkan uang.
FIFA terus menghadapi dilema antara menjaga kedekatan dengan kekuasaan dan sumber pendanaan di satu sisi, serta menjalankan tugasnya untuk menegakkan aturan dan regulasi olahraga di sisi lain. Sejauh ini, uang tampaknya menjadi pemenang. Di bawah kepemimpinan administrator berusia 56 tahun yang memimpin olahraga paling menguntungkan di dunia tersebut, FIFA diperkirakan meraup sekitar US$9 miliar secara langsung dari Piala Dunia 2026, atau sekitar US$2 miliar lebih banyak dibandingkan edisi 2022 di Qatar.
Nama FIFA identik dengan skandal lebih dari satu dekade lalu setelah munculnya kasus korupsi yang diusut oleh jaksa Amerika Serikat. Dalam waktu kurang dari setahun, Infantino diangkat sebagai wajah baru organisasi tersebut. Ia memimpin reformasi, sedikit meningkatkan transparansi, serta secara drastis memperluas skala dan cakupan turnamen-turnamen FIFA, termasuk Piala Dunia Antarklub yang sangat menguntungkan. Namun, ia juga membawa badan sepak bola dunia itu kembali ke jalur yang sudah tidak asing lagi, yakni mencampurkan uang, kekuasaan, dan politik.
Piala Dunia kini menjadi mesin pencetak uang bagi semua pihak yang terlibat. Perusahaan konsesi yang mengelola penjualan makanan dan minuman di dalam stadion menikmati keuntungan besar. Di beberapa stadion, penggemar menghabiskan hingga US$100 per orang selama pertandingan, hampir dua kali lipat dibandingkan pengeluaran penonton dalam pertandingan NFL.
Para pengiklan juga diuntungkan oleh kebijakan jeda hidrasi yang diwajibkan FIFA, yang secara efektif mengubah pertandingan sepak bola yang terkenal berlangsung dalam dua babak menjadi lebih menyerupai olahraga Amerika, dengan ritme layaknya pertandingan empat kuarter.
Kota-kota tuan rumah, yang sebelum turnamen mengeluhkan besarnya biaya penyelenggaraan, kini mulai menikmati peningkatan belanja. Data Bank of America untuk periode 10-21 Juni menunjukkan transaksi kartu kredit dan debit di kota-kota penyelenggara Piala Dunia naik 6,3% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, sementara pengeluaran pengunjung dari luar daerah melonjak 16,7%.
Edisi kali ini juga menandai perluasan jumlah peserta Piala Dunia dari 32 menjadi 48 tim. Total hadiah yang diperebutkan pun meningkat dua kali lipat menjadi rekor US$871 juta. Setiap negara peserta dijamin menerima sedikitnya US$12,5 juta hanya karena lolos dan berpartisipasi dalam turnamen.
Tanjung Verde (Cape Verde) telah mengantongi lebih dari US$21 juta berkat perjalanan bersejarah mereka di Piala Dunia, setara dengan sekitar 0,75% dari produk domestik bruto (PDB) negara kepulauan kecil tersebut. Bagi banyak asosiasi sepak bola lainnya, kemurahan dana dari FIFA menjadi sumber pendanaan yang sangat penting bagi sebagian besar anggotanya.
Infantino selanjutnya akan kembali maju dalam pemilihan presiden FIFA yang dijadwalkan berlangsung pada awal 2027 dalam Kongres FIFA ke-77 di Rabat, Maroko, salah satu negara tuan rumah Piala Dunia berikutnya. Masing-masing dari 211 asosiasi anggota FIFA memiliki satu suara dalam pemungutan suara tersebut.
Hasil pemilihan itu pada dasarnya hanya akan menjadi formalitas, mengingat Infantino kembali menjadi satu-satunya kandidat. Federasi-federasi sepak bola dari Asia, Amerika Selatan, dan Afrika telah menyatakan dukungan kepadanya. Jika terpilih, ini akan menjadi masa jabatan ketiganya setelah menggantikan Sepp Blatter, yang mengundurkan diri pada 2015 di tengah skandal korupsi.
FIFA juga akan dengan mudah menggambarkan Piala Dunia kali ini sebagai kesuksesan besar, dan dalam banyak hal memang demikian. Terlepas dari mahalnya harga tiket, stadion-stadion terisi penuh. Bintang-bintang terbesar sepak bola dunia juga tampil gemilang dengan terus mencetak gol.
Turnamen ini juga menghadirkan representasi global yang lebih luas, dengan sembilan tim Afrika berhasil lolos ke babak gugur. Para suporter pun menikmati keramahan luar biasa dari negara-negara tuan rumah, setelah dua edisi Piala Dunia sebelumnya digelar di Rusia dan Qatar.
Namun, masih belum jelas sejauh mana keluhan dari para bintang sepak bola maupun politisi terkait panggilan telepon Donald Trump kepada Infantino setelah insiden kartu merah tersebut akan memengaruhi posisi Infantino.
Politisi dari Inggris dan Belgia telah menyerukan agar Infantino mengundurkan diri.
"Ini adalah olahraga kami, bukan milik mereka," kata mantan manajer Liverpool FC, Jurgen Klopp. "Jika Donald Trump dan Gianni Infantino benar-benar menyelesaikan persoalan ini hanya di antara mereka berdua, itu adalah kegilaan. Hal itu membuat segala sesuatu dipertanyakan."
Namun, bagi sebagian besar negara anggota FIFA, dukungan terhadap Infantino tetap kokoh.
"FIFA berada dalam posisi terbaik sepanjang sejarahnya," kata Presiden Konfederasi Sepak Bola Asia (AFC), Sheikh Salman. Negara-negara mulai dari Kuwait hingga Afrika Selatan juga tetap menunjukkan dukungan yang kuat kepadanya.
Federasi Sepak Bola Kerajaan Maroko turut menyoroti "kerja luar biasa yang telah dilakukan Gianni Infantino beserta timnya dalam mengembangkan sepak bola Afrika dan dunia."
Sebelum Piala Dunia dimulai, Presiden Trump mengatakan bahwa sepak bola adalah tentang "menyatukan orang-orang." Meski diterpa berbagai kontroversi, cengkeraman Infantino atas dunia sepak bola tetap tidak tergoyahkan.
(bbn)
































