Sebanyak–banyaknya 395 saham mengalami kenaikan, dan ada 219 saham melemah. Adapun 169 saham enggan melaju alias stagnan.
Sejumlah saham yang menguat tajam dan menjadi top gainers, antara lain saham PT Wahana Interfood Nusantara Tbk (COCO) yang melonjak 34,88%, saham PT Estika Tata Tiara Tbk (BEEF) yang melesat 25%, dan saham PT Multi medika Internasional Tbk (MMIX) yang melejit 25%.
Sementara Bursa Asia lainnya menapaki jalur merah. KOSPI (Korea Selatan), KOSDAQ (Korea Selatan), CSI 300 (China), Shenzhen Comp (China), NIKKEI 225 (Jepang), Shanghai Composite (China), TW Weighted Index (Taiwan), dan Ho Chi Minh Stock (Vietnam), yang terpangkas masing–masing 7,89%, 6,74%, 2,96%, 2,81%, 2,47%, 2,03%, 0,58%, dan 0,05%.
Selaras dengan IHSG, masih ada sejumlah indeks yang berhasil menguat, Straits Times (Singapura), PSEI (Filipina), Hang Seng (Hong Kong), SENSEX (India), SETI (Thailand), KLCI (Malaysia), dan TOPIX (Jepang) yang masing–masing berhasil menghijau 1,08%, 0,93%, 0,76%, 0,66%, 0,34%, 0,3%, dan 0,09%.
Bursa Saham Asia tersengat kehati–hatian pasar mencermati perkembangan terbaru dari berbagai sinyal Gubernur Bank Sentral AS (Federal Reserve/The Fed) Kevin Warsh.
Seperti yang dilaporkan Bloomberg News, berbicara di forum rutin tahunan Bank Sentral Eropa (ECB) di Portugal, Kevin Warsh mengatakan ekspektasi inflasi telah melambat selama sebulan baru–baru ini. Kevin juga menegaskan kembali komitmen The Fed untuk memulihkan stabilitas harga.
Pernyataan terbaru itu pun turut memperkuat ekspektasi pembuat kebijakan tidak terburu–buru menaikkan suku bunga Federal Funds Rate (FFR).
Namun memang, para investor saat ini masih dalam mode wait and see dengan berfokus pada data ekonomi AS terbaru yang akan dirilis malam ini, guna mendapatkan sinyal baru mengenai prospek kebijakan bunga acuan.
Seraya yang dipaparkan Phintraco Sekuritas, pasar menantikan rilis data non–farm payroll AS data bulan Juni 2026 yang dijadwalkan rilis pada malam nanti yang diprediksi menunjukkan penambahan tenaga kerja sebanyak 110 ribu, melambat dibanding realisasi bulan sebelumnya sebesar 172 ribu.
“Kondisi ini mengindikasikan bahwa pasar tenaga kerja AS mulai melambat seiring tingginya suku bunga yang masih membatasi aktivitas ekonomi,” papar Phintraco dalam catatan terbarunya siang hari ini, Kamis.
Berkaitan dengan rilis data non–farm payrolls AS malam ini, Phillip Sekuritas Indonesia juga mengutarakan hal serupa, para pakar ekonomi memperkirakan ekonomi AS menambah 115.000 lapangan kerja pada bulan Juni, dengan tingkat pengangguran tetap stabil di 4,3% selama empat bulan beruntun.
“Jumlah penambahan lapangan kerja seperti ini dinilai jauh di atas yang dibutuhkan (50.000) untuk mencegah kenaikan tingkat pengangguran seiring dengan penurunan imigrasi dan penuaan angkatan kerja,” terang Phillip Sekuritas.
Terlebih lagi, dari sektor manufaktur, data ISM Manufacturing Index AS turun ke level 53,3 pada bulan Juni, dari yang sebelumnya mencapai level 54.0 hingga lebih rendah dari ekspektasi pasar, 54.0.
Selain itu, perhitungan final data S&P Global Manufacturing PMI AS direvisi turun tajam ke level 53,9 pada bulan Juni dari estimasi perdana 55,7 dan perhitungan final pada bulan Mei di level 55,1.
Angka terbaru ini menandai laju terlemah dalam tiga bulan terakhir, mengutip Phillip Sekuritas Indonesia.
(fad)






























