Logo Bloomberg Technoz

Kinerja Ekspor Kumulatif Januari-Mei 2026

Sepanjang Januari hingga Mei 2026, total nilai ekspor mencapai US$115,36 miliar atau naik 3,02% dibandingkan periode yang sama tahun lalu (yoy).

Kenaikan ini didorong oleh nilai ekspor nilai ekspor nonmigas yang naik 3,89% dengan nilai US$110,19 miliar. Di sisi lain, nilai ekspor migas tercatat senilai US$5,17 miliar atau turun 12,71%.

“Peningkatan nilai ekspor nonmigas secara kumulatif terjadi di sektor industri pengolahan. Sektor industri pengolahan ini menjadi pendorong utama atas peningkatan kinerja ekspor nonmigas sepanjang Januari hingga Mei 2026 dengan andil sebesar 5,38% terhadap kenaikan total ekspor,” kata Ateng.

Secara detail, dia menyebut bahwa ekspor sektor industri pengolahan yang naik cukup besar yaitu produk olahan nikel, minyak kelapa sawit, kimia dasar organik yang bersumber dari hasil pertanian, kimia dasar anorganik lainnya serta semi-alumunium. 

Sebelumnya, konsensus yang dihimpun Bloomberg terhadap 21 ekonom dan analis memperkirakan pertumbuhan ekspor Indonesia melambat menjadi hanya tumbuh 3,75% secara tahunan, lebih rendah dari 21,98% pada April. Di sisi lain, impor diperkirakan masih tumbuh relatif tinggi sebesar 18,26%.  

Artinya, perlambatan ekspor dapat memunculkan kekhawatiran bahwa mesin pertumbuhan ekonomi Ibu Pertiwi seperti mulai kehilangan tenaga.

Namun, sejatinya data ini juga menggambarkan bahwa struktur pertumbuhan ekonomi sedang bergeser. Ketergantungan terhadap dorongan eksternal sepertinya mulai berkurang, sementara aktivitas domestik pelan-pelan mengambil peran yang lebih besar. 

Dengan angka impor yang terlihat lebih kuat, memberi sinyal bahwa roda industri domestik masih berputar. Perusahaan masih tercatat melakukan pembelian bahan baku untuk memenuhi produksi, sementara investasi pada mesin dan peralatan menunjukkan dunia usaha masih punya keyakinan terhadap prospek ekonomi Indonesia.

(lav)

No more pages