Melansir data Bloomberg, kenaikan yield terjadi pada tenor 1 tahun sebesar 7,7 bps ke level 7,28%, tenor 2 tahun naik 0,9 bps jadi 7,17%, tenor 3 tahun naik 1,3 bps ke 7,19%, tenor 5 tahun naik 1,2 bps bps menjadi 7,09%, tenor 6 tahun naik 0,6 bps ke 7,19%.
Begitu juga dengan tenor acuan 10 tahun naik terbatas 0,5 bps menjadi 7,15%. Sementara tenor 7 tahun nyaris tidak berubah di 7,16%.
Di sisi lain, permintaan investor terlihat lebih kuat pada obligasi tenor panjang. Hal tersebut tercermin dari penurunan yield tenor 8 tahun 2 bps, tenor 9 tahun turun 1,3 bps, tenor 11 tahun 3,3 bps. Tenor 12 tahun menyusul turun 0,6 bps, tenor 13 tahun turun 2,3 bps, tenor 15 tahun turun 2 bps.
Meski begitu, kenaikan terbatas pada tenor pendek mengindikasikan pelaku pasar belum sepenuhnya menghilangkan premi risiko dalam jangka pendek.
Investor sepertinya masih mempertimbangkan sentimen yang berpotensi memengaruhi arah kebijakan moneter, terutama menjelang rilis data inflasi RI, serta perkembangan ekspektasi kebijakan suku bunga global.
Besok, Badan Pusat Statistik (BPS) akan merilis capaian inflasi edisi Juni. Berdasarkan konsensus pasar yang dihimpun Bloomberg, laju inflasi diperkirakan akan terakselerasi dengan median proyeksi 3,1% secara tahunan.
Jika terwujud, inflasi ini tercatat lebih tinggi daripada realisasi Mei yang sebesar 3,08%. Pelaku pasar memperkirakan bahwa laju inflasi telah akan menyentuh level tertingginya dan inflasi diperkirakan akan kembali melandai pada kuartal selanjutnya, ditopang oleh harga minyak yang stabil di harga US$72 per barel.
(dsp)




























