Logo Bloomberg Technoz

“Ada tambahan Rp100 triliun standby diperlukan menyalurkan kredit karena info dari perbankan, permintaan kredit cukup tinggi tapi likuiditas perlu dijaga,” kata Juda.

Kepastian itu disampaikan Juda usai menghadiri rapat koordinasi tentng penguatn fiskal dan moneter yand dihadiri pimpinan DPR, Banggar DPR RI, Komisi XI, perwakilan pemerintah dan bank sentral di DPR, Jakart, pagi ini.

SAL yang dimiliki pemerintah sebelumnya mencapai Rp420 triliun. Sebanyak total Rp300 triliun telah ditempatkan di perbankan secara bertahap sejak September 2025. Sementara sisanya sebanyak Rp120 triliun ditempatkan di Bank Indonesia (BI). 

Kendati demikian, otoritas moneter sebelumnya sempat meminta dana penempatan SAL di Himbara itu ditarik kembali untuk dipindahkan ke bank sentral. 

“Atas permintaan beberapa pihak suruh tarik, saya tarik. Rupanya jadi kering dan enggak ada sumber uang lagi. Jadi saya balikin lagi,” kata Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa dalam media briefing, Jumat (26/6/2026).

Pergerakan SBN

Pasar Surat Berharga Negara (SBN) mengawali pekan ini dengan sinyal yang cukup konstruktif.  Hal ini tercermin dari penurunan imbal hasil (yield) di sebagian besar tenor, terutama tenor menengah hingga panjang.

Melansir data Bloomberg, yield Surat Utang Negara (SUN) tenor 5 tahun turun 3,9 basis poin (bps) menjadi 7,1%, sementara tenor 8 tahun mencatat penurunan paling tajam sebesar 5,3 bps ke level 7,11%.

Penurunan juga terjadi pada tenor 15 tahun sebesar 2,4 bps menjadi 7,26%, dan tenor 16 tahun sebesar 4,6 bps menjadi 7,3%. Sebaliknya, tenor acuan 10 tahun relatif tidak berubah di 7,15% menandakan pelaku pasar masih memilih menunggu katalis baru sebelum mengambil posisi yang lebih agresif. 

Namun, struktur imbal hasil obligasi Tanah Air masih cenderung datar, bahkan sedikit mengalami inversi di tenor pendek. Yield SUN tenor 1 tahun berada di 7,16%, sedikit lebih tinggi dari tenor acuan 10 tahun sebesar 7,15%.

Selisih sekitar 1,1 bps itu menggambarkan bahwa pasar sepertinya masih memandang risiko jangka pendek lebih tinggi daripada prospek jangka panjang. 

Pergerakan di pasar obligasi RI pada Senin (29/6/2026). (Bloomberg)

Investor memperkirakan siklus pengetatan moneter telah mendekati puncaknya dan tekanan inflasi akan semakin terkendali beberapa kuartal ke depan. Menurut Bloomberg Survey yang menghimpun proyeksi dari 20 ekonom dan analis, median proyeksi inflasi berada di 3,2%, naik dari posisi Mei yang sebesar 3,08%. 

Lionel Priyadi, Fixed Income & Macro Strategist Mega Capital Sekuritas, memperkirakan yield SUN tenor acuan 10 tahun berpeluang menlanjutkan tren penurunan menuju kisaran 7,05%-7,15% pada perdagangan hari ini. Dia menyebut prospek tersebut didukung oleh rencana Kementerian Keuangan untuk kembali menempatkan dana Saldo Anggaran Lebih (SAL) di sektor perbankan.

Langkah ini diperkirakan akan meningkatkan likuiditas di sistem keuangan. Dengan kondisi itu, bank tak perlu bersaing terlalu agresif menawarkan bunga simpanan yang tinggi untuk menarik dana masyarakat. 

Sementara yield obligasi valas (INDON) tenor 10 tahun juga tercatat turun 0,9 bps ke 5,36%, disusul tenor 7 tahun turun 0,9 bps ke 5,06%. Turunnya yield di pasar INDON mengindikasikan minat investor terhadap aset di Indonesia masih terjaga. 

Kala sektor perbankan punya dana yang cukup, maka kebutuhan untuk menawarkan suku bunga simpnanan yang tinggi ikut berkurang. Hal ini mendorong investor mengalihkan dananya ke obligasi pemerintah, sehingga permintaan SBN ikut terkerek, dan yield cenderung menurun. 

(naw/lav)

No more pages