Logo Bloomberg Technoz

Nailul menggarisbawahi langkah tersebut akan berpotensi menggerus permintaan yang  turut menurunkan aktivitas transaksi dari bisnis ride hailing itu sendiri. Apalagi, kata dia, sebagian besar konsumen di Indonesia sangat sensitif terhadap kenaikan harga, yang pada akhirnya akan mengoreksi permintaan.

"Dengan harga yang sensitif terhadap permintaan, saya rasa akan ada penyesuaian permintaan apabila terjadi kenaikan harga," tutur dia.

Ruang Monetisasi Bergeser

Laporan keuangan yang dirilis GoTo untuk periode kuartal I-2026 memberi gambaran bahwa pusat pertumbuhan perusahaan saat ini memang tidak lagi bergantung kepada layanan angkutan penumpang (ride hailing) saja, melain dari segmen lainnya seperti delivery atau pengiriman.

Dari sisi operasional, GoTo mencatat nilai transaksi bruto atau gross transaction value (GTV) untuk segmen on-demand services mencapai Rp16,3 triliun. Dari total itu, bisnis delivery, seperti GoFood hingga layanan logistik menyumbang Rp10,6 triliun (tumbuh 8% yoy)

Angka tersebut hampir dua kali lipat dibandingkan bisnis mobility (transportasi) yang tercatat hanya sebesar Rp5,7 triliun (terkoreksi 3% yoy).

Tidak hanya dari sisi transaksi, kontribusi terhadap pendapatan total perusahaan juga semakin timpang, dengan segmen delivery menghasilkan Rp2,54 triliun sepanjang Januari-Maret 2026. Angka ini lebih dari tiga kali lipat dari pendapatan segmen mobility yang hanya Rp815 miliar.

Dari sisi monetisasi lain, GoTo juga mencatat segmen layanan fintech sebesar Rp1,9 triliun, atau naik sekitar 58% yoy, membuat laba operasional yang disesuaikan atau adjusted EBITDA) dari segmen itu tumbuh hampir 7 kali lipat atau 674%.

Sementara itu, Grab Holdings Ltd juga melaporkan kinerja keuangan dalam periode yang sama, dengan kenaikan tinggi di segmen layanan delivery menjadi US$510 juta atau tumbuh sekitar 23% yoy. Sementara, segmen mobility tumbuh lebih tipis sebesar 19% menjadi US$337 juta.

Menyikapi hal itu, Analis Senior Indonesia Strategic and Economic Action Institution (ISEAI), Ronny P Sasmita mengatakan pergeseran tersebut menjadi hal yang rasional.

Hal itu, kata dia, sedianya sudah menjadi strategi umum perusahaan untuk memaksimalkan pertumbuhan pendapatan. Apalagi belum tersentuh pembatasan regulasi seperti segmen transportasi online.

"Secara ekonomi, langkah tersebut sangat memungkinkan, terutama jika segmen lain belum terkena regulasi yang sama ketatnya. Perusahaan akan cenderung mengalokasikan sumber daya ke lini bisnis yang memiliki fleksibilitas margin lebih besar," kata Rommy, di hubungi terpisah.

Hanya saja, Ronny menggarisbawahi hal ini tetap memiliki sejumlah tantanga yang berasal dari tingkat persaingan yang cukup tinggi serta struktur biaya yang juga tidak sederhana.

Dengan kata lain, meski ada peluang, tidak serta-merta segmen tersebut menjadi "ruang “penyelamat tanpa strategi efisiensi dan diferensiasi yang kuat," kata dia.

Opsi Alternatif Lain

Selain segmen delivery, Direktur Ekonomi Digital Indef Nailul Huda menyarankan salah satu alternatif yang dinilai dapat dipertimbangkan adalah mengubah model pemotongan komisi.

Model ini dari berbasis persentase (ad valorem) menjadi tarif tetap (fixed cost), sehingga biaya yang ditanggung pengemudi menjadi lebih pasti, sehingga hubungan antara platform dengan mitra pengemudi yak lagi bergantung pada nilai transaksi setiap perjalanan.

"Tentu besaran harga voucher atau tiket harus dibahas dengan pengemudi, namun dengan cara ini bisa menguntungkan pengemudi karena besaran potongan tetap," kata dia. 
"Voucher juga semakin banyak yang dibeli maka semakin murah harganya bagi pengemudi. Namun ini hanya sebatas ide saja."

Sementara itu, Ronny mengatakan platform juga masih punya opsi lain untuk menjaga profitabilitas tanpa harus membebankan biaya tambahan kepada konsumen.

Opsi tersebut adalah peningkatan layanan berbasis langganan atau subscription, monetisasi data dan iklan dalam aplikasi, kerja sama dengan merchant, hingga efisiensi operasional berbasis teknologi.

"Selain itu, integrasi layanan lintas platform seperti bundling antara transportasi, food delivery, dan logistik juga bisa menjadi sumber nilai tambah," kata dia.

"Jadi keberlanjutan bisnis masih mungkin dijaga, tetapi modelnya akan bergeser dari sekadar komisi transaksi menjadi ekosistem digital yang lebih luas dan terintegrasi."

(ain)

No more pages