Nanti malam waktu Indonesia, AS akan mengumumkan angka Personal Consumption Expenditure (PCE) yang menggambarkan tingkat inflasi yang menjadi preferensi The Fed. Berdasarkan konsensus Bloomberg, PCE AS diperkirakan melonjak ke 4,1% akibat tekanan harga minyak dunia.
Dari kawasan, inflasi Singapura diperkirakan meningkat pada Mei, dipicu oleh kenaikan biaya energi akibat perang Iran. Bloomberg Economics memperkirakan inflasi naik menjadi 1,9% secara tahunan dari 1,8% pada April.
Meski begitu, penguatan dolar Singapura yang menjadi instrumen kebijakan moneter utama negara itu membantu meredam tekanan harga.
Begitu juga dengan Jepang, yang diperkirakan mengalami percepatan tekanan harga. Bloomberg Economics memperkirakan inflasi inti (di luar makanan segar) naik menjadi 1,7% dari 1,3% pada Mei.
Kondisi ini memperkuat ekspektasi bahwa Bank of Japan akan menaikkan suku bunga menjadi 1,25%, pada Desember 2026, dari level saat ini sebesar 1%, berdasarkan skenario Bloomberg Economics.
Di tengah lingkungan moneter global yang kian ketat, tekanan terhadap rupiah berpotensi kembali berlanjut apabila investor asing kembali mengurangi eksposur pada aset domestik.
Kondisi in dapat terjadi seiring tingginya imbal hasil aset negara maju, terutama US Treasury, yang membuat selisih yield Indonesia jadi kurang menarik dibandingkan risiko yang harus ditanggung investor.
Di sisi lain, Indonesia juga nampaknya harus bersaing dengan negara di kawasan Asia dalam menarik aliran modal asing. Sebab, di tengah rezim moneter ketat, investor global pun cenderung lebih selektif, dengan mempertimbangkan kombinasi antara prospek pertumbuhan ekonomi, stabilitas makroekonomi, serta risko nilai tukar, dan tingkat imbal hasil yang ditawarkan.
(dsp/aji)



























