Logo Bloomberg Technoz

Suku Bunga Naik Tekan Industri Telko, Ekspansi Jadi Selektif

Redaksi
22 June 2026 10:15

Ongkos investasi dan bisnis pelaku usaha industri telekomunikasi menghadapi tekanan efek kenaikan suku bunga. (Ilustrasi: Bloomberg)
Ongkos investasi dan bisnis pelaku usaha industri telekomunikasi menghadapi tekanan efek kenaikan suku bunga. (Ilustrasi: Bloomberg)

Bloomberg Technoz, Jakarta - Asosiasi Penyelenggara Jaringan Telekomunikasi (Apjatel) mengakui bahwa kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI Rate) yang terjadi dalam periode singkat, serta kurs nilai tukar masih di level tinggi menjadi tantangan baru bagi industri telekomunikasi dan teknologi informasi dan komunikasi (TIK).

Ketua Umum APJATEL, Jerry M. Swandy mengatakan, kenaikan BI Rate menjadi perhatian serius bagi pelaku industri telekomunikasi karena industri menghadapi tekanan dari dua sisi sekaligus.  Pasalnya, pelemahan rupiah juga berimbas pada meningkatnya biaya pendanaan dan naiknya ongkos pengadaan perangkat yang masih bergantung pada impor.

“Industri menghadapi double pressure [tekanan ganda] dari kenaikan cost of fund dan pelemahan rupiah. Di satu sisi biaya pembiayaan meningkat akibat kenaikan suku bunga, sementara di sisi lain harga perangkat jaringan juga ikut terdorong naik karena eksposur terhadap dolar AS masih cukup besar,” kata Jerry saat berbincang dengan Bloomberg Technoz, dilaporkan Senin (22/6/2026).

Menurutnya, sektor infrastruktur telekomunikasi terutama jaringan fiber optic adalah industri yang sensitif terhadap perubahan suku bunga. Ia menyebut, pembangunan jaringan backbone maupun last-mile membutuhkan investasi besar pada tahap awal, sedangkan pengembalian investasi berlangsung dalam jangka panjang

Alhasil, kenaikan suku bunga secara langsung akan memengaruhi perhitungan bisnis perusahaan dan kecepatan ekspansi jaringan. Selain itu, banyak pelaku usaha hingga penyedia infrastruktur internet dan penyelenggara jasa internet, masih mengandalkan kombinasi modal internal dan pembiayaan perbankan untuk memperluas cakupan layanan.

“Dampaknya bukan hanya pada beban operasional perusahaan, tetapi juga terhadap keputusan investasi. Pelaku usaha menjadi lebih selektif dalam melakukan ekspansi dan cenderung memprioritaskan proyek yang memiliki demand jelas serta monetisasi yang lebih cepat,” sebutnya.

Jerry menambahkan bahwa pelemahan rupiah juga menambah beban industri. Berbagai perangkat jaringan seperti router, switch, optical line terminal, hingga optical equipment masih memiliki ketergantungan tinggi terhadap komponen berdenominasi dolar AS.

Dia menjelaskan kombinasi antara suku bunga tinggi dan pelemahan mata uang menciptakan tantangan yang memaksa perusahaan melakukan penyesuaian terhadap rencana belanja modal, pengelolaan arus kas, hingga strategi ekspansi.

Saat ini, lanjut Jerry, mayoritas anggota APJATEL memilih mengambil langkah lebih hati-hati dengan fokus pada efisiensi operasional, optimalisasi pemanfaatan jaringan yang sudah ada, serta ekspansi yang lebih terukur ke wilayah dengan potensi permintaan yang kuat. Dimana, salah satu tantangan terbesar lainnya adalah tingginya biaya perizinan dan biaya right-of-way di sejumlah daerah. Dalam banyak proyek pembangunan jaringan, komponen tersebut bahkan menjadi salah satu penyumbang terbesar biaya investasi.

“Jika cost of fund naik sementara biaya perizinan tetap tinggi, maka ruang ekspansi industri akan semakin tertekan. Karena itu kami berharap ada harmonisasi perizinan, penyederhanaan regulasi, dan struktur biaya yang lebih efisien agar pembangunan infrastruktur digital dapat berlangsung lebih cepat dan merata,” urai dia.

Sebagai catatan, Bank Indonesia menaikkan BI Rate sebesar 25 basis poin (bps) menjadi 5,75% berdasarkan hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) Juni 2026. Kenaikan ini terjadi sebanyak 3 kali dalam kurun waktu sekitar satu bulan sejak Mei 2026, dengan total kenaikan kumulatif sebesar 100 bps.

Penguatan indeks dolar AS terjadi menyusul adanya langkah para trader mata uang, termasuk hedge fund, yang ramai menambah posisi melalui pasar opsi dengan taruhan bahwa dolar AS akan melanjutkan reli setelah nada hawkish The Fed.