Untuk diketahui, sektor manufaktur teknologi domestik memang belum bisa diandalkan. Produk perangkat seperti semikonduktor, memori chip belum bisa diproduksi secara lokal. Alhasil, “jika pelemahan rupiah berlangsung cukup lama, maka kemungkinan besar akan ada penyesuaian harga bertahap di pasar,” terang dia.
Pelemahan rupiah yang semakin sukar diramal membuat sejumlah pelaku industri mulai menyiapkan strategi efisiensi untuk menjaga daya beli pasar.
Ia mengaku bahwa beberapa distributor dan perusahaan teknologi disebut mulai melakukan penyesuaian stok, menahan impor tertentu, hingga memperpanjang siklus pembaruan perangkat
APTIKNAS juga melihat perusahaan-perusahaan mulai lebih selektif dalam belanja teknologi. Pengadaan perangkat baru diprioritaskan hanya untuk kebutuhan yang dianggap mendesak atau berkaitan langsung dengan operasional bisnis dan transformasi digital.
“Beberapa perusahaan mulai melakukan efisiensi anggaran, memperpanjang umur perangkat, atau menunda refresh infrastruktur. Sementara di sisi konsumen, sensitivitas terhadap harga juga meningkat, khususnya pada kelas menengah,” sebut Fanky.
Cara Agar Produk IT Dalam Negeri Tak Bergantung Impor
Fanky bahwa kebijakan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) tetap penting dalam memperkuat industri teknologi nasional dan mengurangi ketergantungan terhadap produk impor. Namun, dari sisi implementasinya masih perlu dilakukan secara realistis dan bertahap, lantaran industri IT masih bergantung pada rantai pasok global.
“APTIKNAS mendukung penuh kebijakan TKDN karena dalam jangka panjang sangat penting untuk memperkuat industri nasional dan mengurangi ketergantungan impor,” ucap Fanky.
Dirinya menambahkan bahwa industri IT memiliki supply chain global yang kompleks. Sejumlah komponen inti seperti chipset, memori, processor, hingga perangkat semikonduktor masih belum diproduksi di Indonesia. Oleh karena itu, implementasi TKDN masih perlu dilakukan secara realistis dan bertahap.
“Fokusnya tidak hanya pada kewajiban persentase kandungan lokal, tetapi juga membangun ekosistem industri, transfer teknologi, peningkatan SDM, serta insentif investasi manufaktur dan riset di Indonesia,” tambahnya.
Fanky menambahkan, pemerintah perlu lebih konsisten dalam mendorong penggunaan produk teknologi lokal, terutama dalam proses pengadaan barang dan jasa guna meningkatkan kesadaran penggunaan produk lokal. Selain itu, APTIKNAS juga menyoroti implementasi TKDN yang dinilai belum konsisten, baik pada sektor perangkat keras maupun perangkat lunak.
“TKDN hardware sudah ada tapi pemerintah tidak konsisten memprioritaskan TKDN dalam proses pengadaannya, termasuk TKDN software yang masih belum jelas arahnya,” jelas Fanky.
Sementara itu, ekonom LPEM FEB UI Teuku Riefky mengatakan, hambatan pengembangan industri perangakat teknologi informasi IT nasional bukan hanya berasal dari sisi teknologi, tetapi juga investasi, kualitas sumber daya manusia, dan regulasi.
Riefky menyebut bahwa regulasi yang ketat dan tidak pasti mendorong terhambatnya investasi masuk. Menurut dia, minimnya investasi berdampak langsung pada rendahnya transfer pengetahuan dan pengembangan kapasitas tenaga kerja domestik.
“Dengan terbatasnya investasi yang masuk maka knowledge transfer menjadi rendah dan kapasitas SDM terbatas,” sebutnya.
Riefky menilai, kebijakan TKDN justru dapat menjadi hambatan investasi apabila diterapkan terlalu tinggi ketika industri dalam negeri belum siap memenuhi kebutuhan pasar. Sebab, TKDN dinilai membuat investasi tidak masuk dan di sisi lain, industri dalam negeri juga belum siap memenuhi kebutuhan TKDN tersebut.
Ia berpendapat, pemerintah seharusnya lebih fokus menciptakan iklim investasi yang kompetitif agar transfer teknologi dapat terjadi secara alami.
“TKDN dihapus, perbaiki kepastian dan simplifikasi regulasi. Apabila ini berhasil dilakukan maka investasi akan masuk dan technological and knowledge transfer terjadi sehingga kita bisa mereplikasi teknologi dan upgrade skill SDM dan industri dalam negeri,” ujar Teuku.
Teuku juga menilai momentum pelemahan rupiah tidak berkaitan langsung dengan investasi sektor manufaktur teknologi. “Momentum pelemahan Rupiah tidak terlalu nyambung dengan investasi ke sektor manufaktur. Ini lebih ke arus modal finansial,” terang dia.
Bagaimana dengan Sektor Teknologi RI?
Di tengah tekanan kurs, industri teknologi global sendiri tengah mengalami perubahan besar dalam rantai pasok manufaktur. Laporan Bloomberg, menyebut pabrik-pabrik teknologi yang sebelumnya terkonsentrasi di China mulai menyebar ke berbagai negara akibat faktor geopolitik, perang dagang, hingga keamanan rantai pasok.
Negara seperti Vietnam dan India mulai menikmati limpahan investasi manufaktur elektronik baru. Sementara Amerika Serikat, Jepang, dan Eropa memperkuat produksi chip dan teknologi strategis di kawasan masing-masing demi mengurangi ketergantungan terhadap China.
Sementara itu, Indonesia masih berkutat pada hambatan kesiapan tenaga kerja teknologi, kepastian regulasi, serta infrastruktur. Dalam survei World Bank B-Ready 2024, Indonesia juga mencatat skor terendah pada basis ketenagakerjaan ahli, yang jadi indikator tersedianya kapasitas tenaga kerja profesional dan keahlian teknis sebagai fondasi industri berteknologi menengah-tinggi.
(mef/wep)































