“Pemerintah sepenuhnya menyadari fakta bahwa ketika ekonomi sedang booming, hal itu mungkin tidak akan dirasakan oleh semua segmen masyarakat. Ini akan membutuhkan waktu,” kata Shan.
“Ekonomi bukanlah seperti piano, di mana Anda menekan nada fiskal atau nada moneter atau nada struktural, dan Anda mendapatkan solusi standar,” lanjutnya.
Menurut dia, pemerintah Indonesia menyadari bahwa menghubungkan berbagai variabel tersebut dan menyatukannya tidak selalu menghasilkan solusi standar seperti yang ada di dalam textbook. Sebaliknya, pemerintah lebih tertarik untuk meningkatkan standar hidup.
Pemerintah ingin menjaga stabilitas ekonomi, dan yang terpenting adalah berfokus pada pertumbuhan jangka panjang yang berkelanjutan.
“Ya, ini membutuhkan waktu, tidak akan terjadi dalam semalam,” tegasnya.
Pemerintah Indonesia di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto, sambungnya, berkomitmen untuk fokus pada peningkatan standar hidup rakyat Indonesia, dan mereka ingin meningkatkan standar hidup, dan meningkatkan pendapatan per kapita rakyat Indonesia di tingkat makro.
Nilai Tukar Telah Menguat
Dari sisi nilai tukar, dia menggambarkan, pada 5 Juni 2026, seluruh pihak memang menyaksikan bahwa nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) melemah hingga ke level Rp18.200/US$. Namun sekarang kembali menguat ke level Rp17.689/US$, atau menguat 2,8% dalam 10 hari terakhir.
Menurut dia, pelemahan rupiah lebih dipicu oleh guncangan eksternal, seperti kondisi ekonomi AS yang cenderung menguat.
“Mata uang sempat menghadapi tekanan, tetapi telah pulih dengan cukup luar biasa, dan itu jelas menunjukkan bahwa ekonomi kuat, tetap tangguh, dan Indonesia terus berada di radar investor global,” tuturnya.
Untuk informasi selengkapnya saksikan: Bloomberg Technoz Exclusive Interview: Menjaga Kepercayaan, Mempertahankan Pertumbuhan Ekonomi RI.
(red)




























