Hal ini membuat merek memiliki kendali yang jauh lebih besar terhadap citra dan pesan yang ingin disampaikan kepada konsumen. Masih dari laporan SUCCESS, minat perusahaan terhadap influencer AI meningkat pesat. Firma komunikasi Ogilvy memperkirakan influencer virtual dapat menyerap sekitar 30% anggaran pemasaran influencer global pada 2026.
Tren ini didorong kemampuan AI yang menghasilkan konten secara konsisten dengan biaya lebih rendah dibandingkan kolaborasi dengan selebritas atau kreator manusia.
Dalam laporan lainnya menunjukkan, pasar influencer virtual menghasilkan sekitar US$500 juta pada kuartal ketiga 2025. Bahkan, beberapa karakter digital teratas diperkirakan mampu menghasilkan puluhan juta dolar setiap tahun.
Meski demikian, para pengamat menilai influencer AI belum sepenuhnya dapat menggantikan kreator manusia. Di mana, terdapat tantangan besar, yakni membangun rasa autentisitas dan kepercayaan.
Konsumen masih cenderung mencari pengalaman nyata dan hubungan emosional yang sulit direplikasi oleh karakter digital, meskipun tampilannya semakin realistis.
(mef/wep)





























