Logo Bloomberg Technoz

Sementara won Korea Selatan tercatat menguat 0,67%, disusul yen Jepang menguat terbatas 0,05%.

Mata uang kawasan Asia, pada Jumat (19/6/2026). (Bloomberg)

Bagi rupiah, pelemahan sore ini juga disebabkan oleh kekhawatiran MSCI yang menyoroti beberapa hambatan struktural yang membuat akses pasar Indonesia dinilai kurang kompetitif dibanding negara emerging markets lainnya.

Di mata MSCI, tantangan pasar modal Indonesia bukan hanya soal likuiditas, tetapi juga menyangkut kemudahan bertransaksi. Pada pasar valuta asing offshore, misalnya, MSCI menilai kondisinya belum cukup efisien karena berbagai aturan yang membatasi transaksi dan mewajibkan adanya transaksi dasar yang mendasarinya.

Investor asing juga belum dapat memanfaatkan fasilitas overdraft saat menyelesaikan transaksi. Konsekuensinya, mereka harus menyiapkan dana di muka sebelum melakukan pembelian aset, sebuah mekanisme yang dianggap mengurangi efisiensi dan fleksibilitas investasi.

Di sisi lain, perpindahan aset saham secara langsung (in-kind transfer) masih dibatasi pada kondisi tertentu. Kombinasi berbagai ketentuan tersebut membuat Indonesia dinilai belum sefleksibel sejumlah negara emerging markets lain dalam memfasilitasi pergerakan modal global.

Di tengah sentimen ini, pelemahan rupiah kian tak terhindarkan meski Bank Indonesia telah memperketat kebijakan moneter dengan menaikkan suku bunga acuan sebanyak 100 bps sejak Mei. 

Lionel Priyadi, Fixed Income & Macro Strategist Mega Capital Sekuritas, mengatakan BI kemungkinan perlu melanjutkan pengetatan moneter secara bertahap. Dia mengatakan meski saat ini selisih suku bunga (policy rate spread) antara BI dan The Fed telah mencapai 200 bps, BI masih perlu menaikkan suku bunga mininal dua kali hingga ke 6,25%.

"Masih perlu kenaikan lebih lanjut menjadi minimal 225 bps agar rupiah bisa stabil hingga awal tahun depan," kata Lionel kepada Bloomberg Technoz.

(dsp/aji)

No more pages