Logo Bloomberg Technoz

Head of Research Kiwoom Sekuritas Indonesia Liza Camelia Suryanata mengatakan catatan MSCI itu berpotensi mendorong investor global mempertahankan posisi underweight untuk Indonesia lebih lama lagi.

“Risiko utama dari laporan MSCI itu bukan soal penurunan klasifikasi tapi meningkatnya risiko premium untuk Indonesia,” kata Liza lewat riset dikutip Jumat (19/6/2026).

Liza menggarisbawahi MSCI tidak lagi berfokus pada standar keterbukaan informasi tetapi juga belakangan menyoroti integritas proses pembentukan harga atau price discovery.

“Bagi sebuah institusi yang biasanya menggunakan bahasa yang sangat hati-hati dan terukur, penyebutan mengenai perilaku perdagangan yang terkoordinasi mengindikasikan meningkatnya pengawasan terhadap transparansi pasar, kualitas saham beredar publik, serta integritas pasar secara keseluruhan,” kata Liza.

MSCI sebelumnya menurunkan penilaian Indonesia pada indikator Information Flow dari "+" menjadi "-".

Lembaga penyedia indeks global tersebut menyoroti sejumlah persoalan, mulai dari terbatasnya transparansi struktur kepemilikan saham, minimnya ketersediaan informasi perusahaan dalam bahasa Inggris, kualitas free float, hingga adanya indikasi perilaku perdagangan terkoordinasi yang dapat mengganggu proses pembentukan harga yang wajar.

Liza mengatakan, laporan tersebut sejatinya tidak menciptakan kekhawatiran baru, melainkan memperkuat sejumlah isu yang selama beberapa bulan terakhir telah berkembang di kalangan investor global.

Hal itu tercermin dari aksi jual bersih investor asing yang telah mencapai hampir Rp80 triliun sepanjang tahun berjalan, sorotan terhadap transparansi free float, pertanyaan mengenai pemegang saham pengendali akhir, hingga pergerakan harga sebagian saham yang  tidak wajar.

"Risiko utamanya bukan kehilangan status Emerging Market, melainkan kemungkinan diskon valuasi Indonesia bertahan lebih lama sampai ada perbaikan yang nyata pada transparansi, kualitas free float, dan integritas pasar," ujar Liza.

Di sisi lain, Samuel Sekuritas Indonesia berpendapat Indonesia relatif kuat untuk menjaga statusnya di kelompok emerging markets indeks MSCI.

Mengutip riset yang disusun Prasetya Gunadi dan Ahnaf Yassar, kewajiban keterbukaan pemegang saham sebesar 1%, kerangka High Sustainability Compliance (HSC), serta peta jalan peningkatan free float minimum menjadi 15% relatif cukup untuk mempertahankan posisi Indonesia.

"Persyaratan keterbukaan pemegang saham 1%, kerangka HSC, dan peta jalan free float 15% seharusnya cukup untuk mempertahankan klasifikasi Indonesia sebagai Emerging Market," dikutip dari riset Samuel Sekuritas.

Kendati demikian, Prasetya dan Ahnaf menegaskan downgrade MSCI pada aspek transparansi saham menjadi sinyal konsen investor global pada free float, pembentukan harga dan kelayakan investasi menyeluruh pasar modal Indonesia.

“Mencerminkan kekhawatiran yang terus berlanjut terkait transparansi saham beredar publik, price discovery serta tingkat kelayakan investasi secara menyeluruh,” dikutip dari riset yang sama.

(naw)

No more pages