Kenaikan BI Rate, kata dia, juga menunjukkan kehati-hatian BI terhadap masih adanya risiko tekanan pada nilai tukar rupiah serta potensi dampak lanjutan imported inflation terhadap perekonomian domestik, terutama melalui kenaikan biaya produksi yang tercermin pada inflasi produsen.
Di sisi lain, kebijakan tersebut juga mencerminkan respons BI terhadap dinamika likuiditas domestik maupun eksternal. Risiko pelebaran defisit transaksi berjalan, meningkatnya kebutuhan devisa untuk impor energi dan pembayaran dividen korporasi, serta dinamika arus modal global menjadi faktor yang turut memengaruhi arah kebijakan moneter saat ini.
Dia juga memandang naiknya BI Rate menjadi 5,75% sebagai bagian dari strategi antisipatif BI dalam menjaga daya tarik aset keuangan domestik di tengah potensi perubahan arah kebijakan moneter global maupun dinamika arus modal internasional.
“Meskipun minat investor asing terhadap pasar keuangan Indonesia mulai menunjukkan perbaikan, Bank Indonesia tetap mengambil langkah preventif untuk memperkuat kepercayaan pasar dan menjaga stabilitas sistem keuangan,” ujarnya.
Dia menjelaskan tingginya minat investor pada lelang Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI), dengan nilai penyerapan mencapai sekitar Rp43 triliun dan tingkat imbal hasil yang masih berada di atas 7%, menunjukkan instrumen moneter BI masih efektif dalam mendukung stabilitas pasar keuangan domestik.
Kondisi tersebut, lanjut Myrdal, sekaligus memberikan ruang bagi Bank Indonesia untuk terus menjaga stabilitas likuiditas dan nilai tukar apabila volatilitas global kembali meningkat.
Dalam jangka pendek, dia memperkirakan imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) tenor pendek masih akan berada di atas 7%, sementara yield SUN tenor 10 tahun diperkirakan bergerak pada kisaran 6,87%–7,41%.
Dalam kaitan itu, prospek perekonomian Indonesia diperkirakan tetap terjaga dengan pertumbuhan ekonomi sekitar 5,17% pada 2026 dan inflasi sebesar 3,09%. Sementara itu, pertumbuhan intermediasi perbankan diperkirakan berlangsung lebih moderat dengan pertumbuhan kredit di bawah 9%.
Sektor-sektor yang diproyeksikan menjadi motor utama pertumbuhan pembiayaan meliputi ketahanan pangan, transportasi, konstruksi, industri makanan dan minuman, energi, besi dan baja, kelapa sawit, serta properti residensial.
BI sebelumnya telah memutuskan untuk kembali menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 bps menjadi 5,75%. Hal ini ditetapkan dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI bulanan periode Juni 2026 yang berlangsung pada 17-18 Juni 2026.
Gubernur BI Perry Warjiyo menyebutkan suku bunga deposit facility juga meningkat sebesar 25 bps menjadi 4,75%, dan suku bunga lending facility juga naik sebesar 25 bps menjadi 6,5%.
"Kenaikan ini sebagai langkah lanjutan untuk makin memperkuat stabilisasi nilai tukar rupiah di tengah tetap tingginya ketidakpastian global," ujar Perry dalam konferensi pers Hasil RDG BI, Kamis (18/6/2026).
Selain itu, kebijakan ini juga merupakan langkah pre-emptive untuk menjaga inflasi 2026 dan 2027 tetap berada dalam kisaran sasaran 2,5 plus-minus 1% sesuai yang ditetapkan pemerintah.
(lav)



























