Sementara itu, sebagian mata uang kawasan masih menghadapi tekanan dari nada hawkish The Fed. Meski suku bunga acuan bertahan di 3,5-3,75%, tetapi dot plot terbaru menunjukkan para pejabat The Fed melihat kenaikan Federal Funds Rate bisa terjadi tahun ini, sekali atau dua kali masing-masing 25 bps.
Ringgit Malaysia melemah paling tajam, disusul won Korea Selatan, baht Thailand, peso Filipina, dolar Taiwan yuan China dan dolar Hong Kong.
Namun, penguatan rupiah yang terjadi hari ini belum sepenuhnya bisa dibaca sebagai tanda bahwa tekanan telah berakhir. Selama pasar global masih dibayangi ekspektasi suku bunga AS yang tinggi, arah mata uang emerging market akan tetap sangat sensitif terhadap perubahan sentimen eksternal.
(dsp/aji)
No more pages




























