Logo Bloomberg Technoz

Terbaru, Komite Pasar Terbuka Federal (Federal Open Market Committee/FOMC) baru saja merilis keputusan terkait arah kebijakan moneter mereka pada Rabu setempat. Rapat kali ini menjadi perhatian besar karena menjadi panggung pertama kepemimpinan Kevin Warsh sebagai Gubernur The Fed yang baru.

Pembuat kebijakan The Fed memutuskan untuk tidak mengubah suku bunga, FOMC secara bulat memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuan di rentang target 3,5%–3,75%. Dalam pernyataan pasca-pertemuan, para pejabat mengatakan inflasi masih tinggi dan berjanji untuk mengembalikan stabilitas harga.

Pasar sepenuhnya memperhitungkan kemungkinan kenaikan suku bunga dalam beberapa bulan mendatang karena The Fed lebih memprioritaskan stabilitas harga dibanding lapangan kerja.

Dampak langsungnya, tercatat saham-saham unggulan perbankan big caps mengalami penurunan dengan nilai transaksi cukup besar yang didominasi aksi jual pada jeda perdagangan Sesi I siang hari ini:

  1. Saham PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) turun 100 poin (3,24%) di posisi Rp2.980/saham. Total transaksi Rp524 miliar
  2. Saham PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) turun 100 poin (2,22%) di posisi Rp4.390/saham. Total transaksi Rp417 miliar
  3. Saham PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) turun 70 poin (1,84%) di posisi Rp3.730/saham. Total transaksi Rp116 miliar
  4. Saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) turun 100 poin (1,59%) di posisi Rp6.175/saham. Total transaksi Rp650 miliar

Mirae Asset Sekuritas Indonesia menyebut, fokus utama para pelaku pasar global tertuju pada hasil pertemuan FOMC The Fed terkait Keputusan Fed Rate serta FOMC Economic Projections.

Berdasarkan proyeksi Fed Funds Rate per Juni 2026 ini, adapun median mengalami kenaikan menjadi 3,8% dari 3,4% per Maret 2026 sebelumnya untuk 2026 ini, yang mengisyaratkan adanya peluang kenaikan Fed Rate sebesar 25 bps untuk tahun ini, yakni di Desember 2026.

“Arah kebijakan The Fed ini masih dipandang hawkish oleh kalangan pelaku pasar,” papar Mirae Asset dalam catatan hariannya, Kamis.

Di sisi lain, para pelaku pasar juga mengantisipasi hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia (BI) guna menjaga stabilitas nilai tukar rupiah, adapun penetapan BI Rate diprediksi ada kenaikan 25 bps pada level 5,75% berdasarkan konsensus.

Sarannya, akumulasi pada saham pilihan dengan fundamental solid; “fokus pada saham bervaluasi murah; fokus terhadap saham yang menunjukkan arah pembalikan tren, dan gunakan manajemen resiko dengan disiplin,” tulisnya.

Terlebih lagi, nilai tukar rupiah tengah tertekan 0,33% menembus level Rp17.796 per dolar AS di pasar spot berdasarkan data Bloomberg siang hari ini.

(fad)

No more pages